Thursday, April 4, 2013

Sunrise Poem

The golden sun is rising
As I walk along the beach
The soft white clouds are floating
In a place that I can't reach

I walk along the promenade
Enjoying this wondrous sight
Seagulls soar as the darkness fade
And I cry out in delight

The sky is ablaze in golden fire
Rosy pink then to blue
Sea horses galloping at their heart's desire
And I walk back in the morning dew

By Chika & Caca Sunarto

Tuesday, August 31, 2010

Ketika saatnya kami harus pulang


Farewell at Gull Bus Station
Aku tidak tahu persis apa yang sedang berkecamuk di benak dua gadis kecilku. Tetapi hatiku sedikit tercekat ketika mendengar cerita Sharynn, guru kelas Chika. Beliau berkata Chika berkaca-kaca ketika dia menceritakan bahwa kami akan pulang ke Indonesia akhir Agustus tahun ini. Oo!

Selama ini Mas Agus dan aku selalu mempersiapkan Chika dan Caca, bahwa ke manapun kami pergi dan di manapun kami tinggal, itulah yang terbaik bagi kami, itulah rencana terindah dari Alloh bagi kami. Kami terkadang lupa kami berdua berbicara dengan dua gadis kecil yang belum genap 8 dan 10 tahun.  Mereka mengerti bahwa mereka harus selalu bersyukur dan menikmati setiap momen yang mereka lalui,  tetapi inilah pertama kali mereka merasakan arti sebuah perpisahan dengan teman-teman di sekolah, dengan suasana ramai  ruang ganti di kelas ballet ataupun kelas berenang, dengan musim yang selalu berganti setiap tiga bulan ...  Hari ini aku seperti diingatkan, bahwa kami mempunyai tugas yang lebih penting saat ini selain tugas berkemas .

Empat tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menjadikan Geelong kota kedua bagi Chika dan Caca.  Kami merasakan keramahan kota ini. Sapaan para lansia di pagi hari ketika kami berangakat ke sekolah. Ketukan hangat di pintu rumah di malam hari untuk sekotak coklat dari tetangga depan rumah. Suara pemotong rumput tetangga sebelah yang merapikan jalur hijau di depan rumah. Lambaian tangan ramah beserta tawaran sebuah sepeda untuk Caca. Kami sudah merasa memiliki kota ini ketika dengan mudahnya mencari setangkai mawar untuk kekasih tercinta di hari istimewa dan ketika ikut bernyanyi “We are Geelong the greatest team of all...”
But, there is a season for whatever is under the sky. Likewise, when we have to migrate from one city to another, from one country to another, we must be brave to leave the embrace of the establishment and comfort that is always temporary...

Tetapi, apapun di bawah langit pasti ada masanya. Demikian juga ketika kami harus berhijrah dari satu kota ke kota lain, dari satu negeri ke negeri lain, kami harus berani meninggalkan pelukan kemapanan dan kenyamanan yang selalu sementara... 

Sunday, December 6, 2009

The Magical Hammock

One sunny day a girl named Caca got a surprise in her backyard. She lived with her Mum, Dad and her big sister named, Chika. They all lived in a nice and peaceful street. The surprise that Caca got was that a new hammock was hanging between two trees. The hammock was full of different types of colours. Caca had a try on it. It was very comfy. She was about to call someone to help her swing the hammock, when suddenly the hammock swang all by itself! Caca was very surprised. She thought that the hammock was magical. It was like the hammock knew what she was thinking. For the whole day Caca stayed in the hammock most of the time. The next day Caca went on the hammock again after breakfast. You see, every time somebody lies down on the hammock something magical happens. Each day something different happens. But the hammock only did magical things to people that was nice. But Caca didn’t know that. This time, when Caca lay down on the hammock, she was somewhere else. She wasn’t outside in her backyard. She was on the MOON! Caca was a bit scared. Caca sat down on the hammock. ”I wish I could go home,” thought Caca. Then, with one soft sway they were home. Caca was relieved. When the next adventure with the hammock came, Caca wished it were nothing to do with the moon. Caca had a great time playing with hammock. When Caca was eating her dinner, she just knew that the hammock was magical. Tomorrow, Caca knew she would have a new lot of adventures with her special friend, The Magical Hammock!

(by: Kansha Sunarto)

Tuesday, July 7, 2009

Ketika Penguin dan Anjing bermain bersama

Siang, sepulang dari tutor bahasa Indonesia di Drysdale Secondary College, aku singgah ke Newcomb Library karena ada beberapa buku yang harus kukembalikan. Seperti biasa aku melihat-lihat deretan buku di bagian masak-memasak atau merajut. Setelah mendapat buku “Cookies, Muffins and Cakes” aku beralih ke deretan buku-buku psikologi. Ada sebuah buku yang menarik perhatianku: Every Child Has a Thinking Style by Lanna Nakone. A guide to Recognizing and Fostering each Child’s natural Gifts and Preferences - To help them learn, Thrive, and Achieve.
Judulnya cukup menarik, karena belakangan ini aku dan Mas Agus cukup dibuat bingung dengan tingkah polah dua malaikat kecilku karena kadang-kadang mereka bisa berubah menjadi little devils. Akupun membawa pulang buku ini dan berharap bisa membacanya sebagai buku pengantar tidur atau teman menikmati muffin. Sebagai seorang ibu dari dua gadis kecil yang memiliki karakter yang sangat berbeda, seringkali aku berpikir, pola asuh seperti apa yang tepat buat anak-anakku? Setelah membaca bab pertama, aku segera ingin menyelesaikannya karena buku ini ternyata memberikan banyak masukan dan cukup memberikan jawaban bagiku yang terkadang merasa berjalan dalam gelap dan sedikit frustrasi melihat tingkah dua gadis kecilku yang sangat melelahkan.
Lana Nakone melalui riset terakhirnya membagi karakter anak menjadi 4 macam yaitu penguin (maintainers style), anjing (harmonizers style), kuda (innovators style), dan singa (prioritizers style). Tulisannya yang terstruktur dan bahasanya yang mudah dipahami serta dibantu dengan cerita, ilustrasi, dan langkah demi langkah dalam pendekatan terhadap setiap karakter anak membantuku lebih memahami keunikan mereka. Akupun kini harus memiliki pendekatan yang berbeda sehingga mereka lebih nyaman dan gembira dalam menjalani hari-harinya. Aku tahu itu tidak semudah teori di dalam buku ini. Aku juga tahu buku ini hanya alat bantu, tapi aku juga tahu…..

Chika-ku mungkin seorang “Penguin”.

Hari Sabtu siang. Seperti biasa, kami menjemput Chika & Caca dari kursus balletnya. Karena cuaca cukup cerah, Mas Agus membelokkan mobil ke arah luar kota - Inverleigh. Kami sekedar ingin mencari tempat piknik untuk menikmati makan siang. Tetapi sungguh sangat menjengkelkan, ketika Chika (waktu itu berumur 7 tahun) dengan bossy memberikan pernyataan bahwa dia tidak ingin jalan-jalan, disusul dengan suara sesenggukan tangis yang ingin memperjelas nada protesnya. Saat itu yang ada di pikiran kami adalah Chika terlalu bossy dan kami ingin dia mau mengerti kepentingan orang lain. Selama perjalanan dan makan siang dia terus menunjukkan wajah masam dan mata sembab. Akhirnya kamipun pulang dengan perasaan yang sangat tidak nyaman. Seorang penguin sangat menikmati rutinitas, sesuatu yang teratur dan terprogram dengan jelas. Sehingga dia tidak terlalu menyukai kejutan. Aku baru menyadarinya setelah membaca buku ini. Chika sebenarnya tidak bossy tetapi dia ingin semuanya terencana. Perjalanan mencari tempat piknik, yang kami pikir akan menyenangkannya ternyata bagi dia adalah sesuatu yang di luar program. Pada hari itu, dia ingin menyelesaikan bacaannya sepulang dari kursus ballet, sehingga hari berikutnya dia bisa ke perpustakaan untuk meminjam buku yang baru. Aku baru ingat bahwa Chika selalu membuat daftar apa saja yang harus dibawa dan diperlukan kalau kami akan pergi ke suatu tempat. Dia akan menikmati tugasnya mengingatkanku apa saja yang masih belum terbawa di keranjang piknik atau di tas ransel kami. Betapa senangnya dia kalau diajak membuka peta oleh ayahnya kalau akan merencanakan suatu perjalanan disaat liburan. Dan dia dengan senang hati mencatat di buku kecilnya jam keberangkatan serta jarak tempuh setiap kami mengadakan perjalanan ke suatu tempat yang baru. Di sekolah, Chika juga selalu dijadikan role model bagi teman-temannya karena ketepatannya dalam mengerjakan semua tugas yang diberikan kepadanya. Dan sekarang di usianya yang belum genap 9 tahun, dia mempunyai jadwal untuk membantuku mencuci piring di hari yang telah terjadwal yaitu hari Minggu, Senin, dan Rabu. Sungguh bersyukur kami memiliki seorang penguin di rumah kami. Dan betapa bersyukurnya dunia memiliki maintainers seperti engkau, Chika. Karena kalau tidak betapa kacaunya dunia ini.

Caca, engkaukah Si “Harmonizer?”

Selalu cekakak-cekikik dengan teman-temannya di ruang ganti ballet. Atau asyik bermain hide and seek di ruang tunggu kalau kami agak terlambat menjemputnya - itulah Caca. Tidak terlalu perduli siapa the best friend karena bisa bermain dengan siapa saja. Terkesan santai, dan hampir tidak terlihat punya ambisi untuk mencapai sesuatu. Tapi bukan berarti dia tidak berprestasi lho!..., prestasi akademisnya sangat menonjol, sejak preparation class, Caca selalu mengikuti semua aktivitas class di atasnya. Tahun lalu, selain mendapat penghargaan General Excellence Award, Caca juga mendapat gold medallion di bidang olah raga. Kalau di dalam kelas, Caca sangat tahu apa yang harus dikerjakan dan yang tidak perlu dilakukan. Hal ini yang sangat mengejutkanku. Di usianya yang waktu itu belum juga genap 6 tahun, dia sudah bisa menganalisa lingkungan kelasnya dengan baik. Dia sangat mengerti keinginan gurunya atau teman-temannya. Kalau gurunya sedang ingin menjelaskan sesuatu tanpa ingin diinterupsi, Caca akan menunggu dengan sabar untuk memberikan komentar dengan mengangkat tangan terlebih dahulu. Dia tahu membantu temannya ketika mendapat tugas di friendship stop, tanpa ingin menonjolkan kelebihannya dalam mencatat nama atau alat permainan (padahal dia tahu persis, temannya yang bertugas bersamanya tidak terlalu bisa mengeja atau menulis). Mungkin inilah kelebihan Caca-ku, dia ingin semuanya berjalan dengan damai, tidak perlu bersitegang atau rebutan untuk mendapatkan tugas atau kedudukan. Setiap pulang sekolah, aku selalu melihat Caca asyik mengobrol atau kejar-kejaran di oval bersama teman-temannya. Tetapi kalau sudah di rumah Caca tahu bahwa dia boleh bebas melakukan kemauannya termasuk… sangat sulit dibangunkan dipagi hari, sulit disuruh mandi, dan makan luaaaama … sekali. Bagi orang lain waktu terus berjalan cepat, bagi Caca waktu seperti merangkak. Tapi lucunya ini hanya terjadi di rumah. Di sekolah semua tugas dikerjakannya dengan baik dan tepat waktu. Mungkin seperti anjing yang menjadi symbol harmonizer, dia hidup riang dan selalu bergembira bila dikelilingi teman-temannya. Dia tidak terlalu mementingkan diri sendiri, yang penting dia bisa hidup nyaman dan damai. Caca….Caca…. kamu sungguh tahu menyenangkan hati setiap orang. Tetapi kamu juga tahu bahwa rumah adalah tempat paling bebas di dunia karena semua orang menerimamu apa adanya - baik kelebihan atau kekuranganmu. Home sweet home itulah juga kalimat yang sering dilontarkan Caca kalau kami sampai di rumah sepulang dari jalan-jalan.

Saturday, April 11, 2009

The Adventure to Erskine Falls

On Saturday 11th of March, my family went to Erskine Falls in Lorne. It was so EXCITING! First we got prepared and got dressed. Then we drove to Bellarine Village to buy some fruits. While mum was shopping, dad told me what time it was, the distance and where we were. I wrote it down in my notebook.

We travelled 20 km to get to Torquay; there we saw the sea – the Southern Ocean. It looked so beautiful. Then we drove along the famous Great Ocean Road. It only took 15 minutes to get to Anglesea. Next up was Aireys Inlet. This time it only took 10 minutes! In Aireys Inlet I looked at the trees and saw that they were burnt at the bottom but the top was normal. I’ve never seen trees like that before so I thought it was because of the bushfires but I wasn’t sure.

After an 18 km long we saw Lorne. The waves were really good to do body surfing I thought. When we got to Lorne we parked the car and walked into the information centre. We got two maps, one so we could go to the waterfall and the other one showed us the whole town of Lorne. We followed the first map, which led us to Erskine Falls. The waterfall was 30m high but unfortunately there wasn’t much water because of the drought. When I smelt the forest I just couldn’t leave because it smelt like moist and damp trees. Caca my little sister jumped on the rocks and I followed her. The rocks along the creek were slippery and had fungi, algae and mushrooms. We followed a path that led us deeper into the forest. There I saw a log that ran across like a bridge. I balanced on it and it was very slippery. I only got to reach the middle because the rest of the log was rotting. Soon I found a little cave and it had drawings on it.

When I got back and saw the waterfall I leaped from rock to rock until I got tired of doing it. Then I got back to mum, but I saw that Caca and dad were walking very close to the waterfall. When they got back I remembered that we had to climb about 300 stairs! Caca ran up like a Cheetah and I thought that she’d be exhausted when she reached the car. Well she was but not like I was. Did you know that she won a gold medal in the junior Olympics for her age group last year?

Well I was relieved that we were going to have lunch because I was starving. We had Macaroni Cheese for lunch and enjoyed it while looking at the surfers at Louttit Bay. When we finished eating everyone walked to the fair and brought some Fairy Floss, it was yummy! Then we looked around. Caca and dad went back to the beach while mum and I bought 2 corn–on–the–cob. When mum and I got back, Caca was making a sandcastle and dad was reading a book. When I finished my corn–on–the–cob, I helped Caca make a new sandcastle and we found lots of interesting things. When I found a huge pile of seaweed I grabbed it and called for Caca to help me. We tugged at it and then suddenly we fell backwards and got ourselves dirty. Then I got some water from the sea and cleaned my clothes. After a little while mum and dad called us back. First we had to clean our feet so it wasn’t sandy, then we got changed.

Next we had to go home. When we were going back home we took another route – the inland route . This is the story of how we got home. First we departed from Lorne toward Deans Marsh. While dad were driving along the winding road of Otway National Park, Caca and I ate an Easter egg each. Then we found the leftover Fairy Floss and ate the rest. After that we sang some nursery rhymes and sang a silly song! For about 44 minutes we did that and then we reached Winchelsea. There we ate fish & chips. All of us thought that the chips were horrible! In the car, Caca and I did a silly game and we were laughing about it when arrived at home. Home Sweet Home! The whole adventure took us 7 hours and 51 minutes and it took 173 km to Lorne and back. (By Chika Sunarto)

Sunday, March 8, 2009

Gold rush

Tahun 1850-an di Australia dikenal sebagai gold rush - masa pencarian & penemuan emas besar-besaran. Kabar penemuan emas di Australia menyebabkan migrasi bangsa Eropa dan Asia terutama China ke Victoria. Banyak pemukiman dan kota baru lahir karena penambangan emas. Salah satunya kota Ballarat yang terletak 110km arah barat kota Melbourne. Ballarat dibangun dari emas hasil penambangan di Sovereign Hill - sebuah bukit emas disebelah selatan pusat kota. Bongkahan emas (nugget) terbesar kedua didunia ditemukan di Sovereign Hill pada musim dingin 1859. Emas seberat 67kg yang dikenal sebagai Welcome Nugget ini mempunyai kadar kemurnian 99,6% sehingga dihargai 10,050 pound sterling.

Hari ini Chika dan Caca napak tilas expedisi pencarian emas di Sovereign Hill bersama ratusan penambang emas amatir. Chika dan Caca semangat sekali mendulang emas di Red Hill Mine dimana Welcome Nugget ditemukan. Dengan harapan akan menemukan Welcome Nugget jilid 2, hi...hi. Chika menemukan "emas" dan menjualnya ke Waterloo Store - toko emas yang terletak dipinggir sungai. Seperti semua bangunan di Sovereign Hill, toko emas ini masih dipertahankan seperti aslinya, bahkan penjaga tokonya juga memakai baju ala 1850-an. Hasil 'penjualan emas" yang ditemukan Chika "dipakai" untuk beli es krim. Chika pilih rasa English Toffee kesukaannya, sementara Caca lebih suka menjilati permen Rasberry sampai mulutnya cemong gak karuan.

Walaupun saat ini sudah tidak ada emas lagi di Sovereign Hill, tetapi kota emas ini masih hidup, mungkin malah lebih ramai dari jaman gold rush tahun 1850-an. Bukan sebagai kota tambang emas tapi sebagai kota wisata. Tambang emas, gubuk tempat tinggal para pendulang, toko tempat jual beli emas, toko permen, es krim, pandai besi, kantor pos, bank, kereta kuda, bahkan pakaian "penduduknya" masih sama seperti tahun 1850-an. Tidak heran jika Sovereign Hill berhasil menyabet predikat Australian Tourism Awards.
Sambil menikmati es krim rasa abad ke-19, kami melihat proses peleburan emas di Gold Smelting Works. Emas dilebur di dalam tunggu panas suhu 1000 derajad Celcius dan dicetak menjadi batangan emas. Karena batangan emas ini berharga $140,000 hanya satu orang saja yang diperbolehkan memegangnya. Bagi yang ingin membeli perhiasan emas, disediakan di ruang sebelah dengan harga diskon. Ibu-ibu dan gadis-gadis langsung berbinar. Dari jauh kulihat Novy dan dua gadis kecilku juga tampak asyik di depan etalase. Ketika mereka menghampiriku dengan gusto, aku langsung ngeloyor pergi... perutku langsung mules, huek huekkkk.... Walaupun tidak berhasil menemukan Welcome Nugget jilid 2, Chika dan Caca tampak sangat gembira dengan beberapa batu quart dari hasil kerja kerasnya di pendulangan. Ketika mereka bertanya apakah kami menemukan emas, Novy bilang dia menemukan emas yang beratnya hampir sama dengan Welcome Nugget, namanya Mas Agus. Halah...!

Begonia Festival

Minggu pertama musim gugur. Suhu udara kembali normal 15-25oC. Hujan gerimis (orang Geelong menyebutnya spitting) juga mulai turun. Walaupun hanya beberapa puluh milimeter tetapi cukup untuk meredakan kebakaran yang menghanguskan Victoria dalam 3 minggu terakhir (lihat cerita tentang kebakaran di postingan Bushfire). Karena pemerintah mengumumkan bahwa kebakaran sudah reda, hari minggu ini kami jalan-jalan ke Ballarat - 90 km dari Geelong ke arah barat laut. Driving di Midland Highway A300 cukup menyenangkan, jalanan sepi sehingga kami dapat menikmati pemandangan dengan leluasa. Karena kekeringan, hanya kebun anggur yang tampak hijau. Hamparan padang rumput di peternakan sapi dan domba telah kering meranggas berwarna kuning kecoklatan. Tak heran sangat mudah terbakar. Apalagi pada saat musim panas ketika angin kencang dan suhu mencapai 45oC.

Setelah menempuh perjalanan selama 75 menit, kami tiba di kota Ballarat. Ballarat berasal dari bahasa Aborigin yang berarti tempat peristirahatan. Tujuan pertama kami adalah Begonia Festival di Botanical Garden. Ada 500 Begonia dari 150 varietas yang dipamerkan. Agak berbeda dengan Begonia koleksi Ibu di Malang yang tidak satupun berbunga, Begonia yang ada di pameran ini berbunga warna-warni ada merah, pink, orange, kuning, putih. Mungkin Begonia koleksi Ibu adalah varietas evergreen yang memang tidak berbunga. Gimana ya caranya ngirim Begonia dari Ballarat ke Malang? Ibu mertua pasti senang dapat tambahan koleksi Begonia. Kalo lihat photo Begonia yang warna-warni, Ibu mertua pasti langsung pengin ke Geelong. "Untung" Ibu mertua gaptek, gak pernah berkunjung ke blog ini. Jadi gak perlu repot-repot ngantar ke Ballarat, he...he.


Kami juga sempat naik tram “keliling” Lake Wendouree. Kebetulan hari ini tram gratis. Senang buanget dapat gratisan ... maklum keluarga mahasiswa. Menurut sejarah, pesisir Lake Wendouree merupakan tempat berkemah suku Wathaurong selama upacara adat. Tempat ini juga menjadi pusat perdagangan (barter hasil perburuan) suku Wathaurong yang tinggal di Ballarat dan sekitarnya. Kanguru, emu dan angsa hitam yang hanya ada di Australia sangat melimpah di Ballarat. Lake Wendouree dan sungai di sekitarnya juga kaya akan ikan salmon, whiting, mullet dan garfish. Kedamaian hidup suku Wathaurong ini sirna ketika kolonial Inggris datang dan merampas tanah adat mereka pada tahun 1835. Bukan hanya merampas hak orang Aborigin, orang Eropa juga menyebarkan penyakit flu dan cacar yang menyebabkan kematian masal suku Wathaurong. Lake Wendouree bukan hanya menjadi saksi bisu keserakahan kolonial Inggris tetapi juga menjadi bukti ganasnya perubahan iklim dan pemanasan global. Pada saat Olimpiade Melbourne tahun 1956, cabang dayung diselenggarakan di Lake Wendouree. Tetapi sekarang danau yang kaya akan sumber daya alam dan punya catatan sejarah panjang ini kering kerontang. Chika dan Caca bahkan sempat berlarian di tengah danau, bukan sulap bukan sihir! "Untung" danau ini ada di Austalia dimana fasilitas umum sangat dilindungi sehingga tidak dikapling-kapling menjadi perumahan mewah.



Cabang Dayung Olimpiade Melbourne 1956, photo didownload dari www.rowinghistory-aus.info