Sunday, March 8, 2009

Begonia Festival

Minggu pertama musim gugur. Suhu udara kembali normal 15-25oC. Hujan gerimis (orang Geelong menyebutnya spitting) juga mulai turun. Walaupun hanya beberapa puluh milimeter tetapi cukup untuk meredakan kebakaran yang menghanguskan Victoria dalam 3 minggu terakhir (lihat cerita tentang kebakaran di postingan Bushfire). Karena pemerintah mengumumkan bahwa kebakaran sudah reda, hari minggu ini kami jalan-jalan ke Ballarat - 90 km dari Geelong ke arah barat laut. Driving di Midland Highway A300 cukup menyenangkan, jalanan sepi sehingga kami dapat menikmati pemandangan dengan leluasa. Karena kekeringan, hanya kebun anggur yang tampak hijau. Hamparan padang rumput di peternakan sapi dan domba telah kering meranggas berwarna kuning kecoklatan. Tak heran sangat mudah terbakar. Apalagi pada saat musim panas ketika angin kencang dan suhu mencapai 45oC.

Setelah menempuh perjalanan selama 75 menit, kami tiba di kota Ballarat. Ballarat berasal dari bahasa Aborigin yang berarti tempat peristirahatan. Tujuan pertama kami adalah Begonia Festival di Botanical Garden. Ada 500 Begonia dari 150 varietas yang dipamerkan. Agak berbeda dengan Begonia koleksi Ibu di Malang yang tidak satupun berbunga, Begonia yang ada di pameran ini berbunga warna-warni ada merah, pink, orange, kuning, putih. Mungkin Begonia koleksi Ibu adalah varietas evergreen yang memang tidak berbunga. Gimana ya caranya ngirim Begonia dari Ballarat ke Malang? Ibu mertua pasti senang dapat tambahan koleksi Begonia. Kalo lihat photo Begonia yang warna-warni, Ibu mertua pasti langsung pengin ke Geelong. "Untung" Ibu mertua gaptek, gak pernah berkunjung ke blog ini. Jadi gak perlu repot-repot ngantar ke Ballarat, he...he.


Kami juga sempat naik tram “keliling” Lake Wendouree. Kebetulan hari ini tram gratis. Senang buanget dapat gratisan ... maklum keluarga mahasiswa. Menurut sejarah, pesisir Lake Wendouree merupakan tempat berkemah suku Wathaurong selama upacara adat. Tempat ini juga menjadi pusat perdagangan (barter hasil perburuan) suku Wathaurong yang tinggal di Ballarat dan sekitarnya. Kanguru, emu dan angsa hitam yang hanya ada di Australia sangat melimpah di Ballarat. Lake Wendouree dan sungai di sekitarnya juga kaya akan ikan salmon, whiting, mullet dan garfish. Kedamaian hidup suku Wathaurong ini sirna ketika kolonial Inggris datang dan merampas tanah adat mereka pada tahun 1835. Bukan hanya merampas hak orang Aborigin, orang Eropa juga menyebarkan penyakit flu dan cacar yang menyebabkan kematian masal suku Wathaurong. Lake Wendouree bukan hanya menjadi saksi bisu keserakahan kolonial Inggris tetapi juga menjadi bukti ganasnya perubahan iklim dan pemanasan global. Pada saat Olimpiade Melbourne tahun 1956, cabang dayung diselenggarakan di Lake Wendouree. Tetapi sekarang danau yang kaya akan sumber daya alam dan punya catatan sejarah panjang ini kering kerontang. Chika dan Caca bahkan sempat berlarian di tengah danau, bukan sulap bukan sihir! "Untung" danau ini ada di Austalia dimana fasilitas umum sangat dilindungi sehingga tidak dikapling-kapling menjadi perumahan mewah.



Cabang Dayung Olimpiade Melbourne 1956, photo didownload dari www.rowinghistory-aus.info

Sunday, February 22, 2009

Jalan-Jalan Pagi

Waktu di Bogor dulu, jalan pagi di hari Minggu menjadi kebiasaan keluarga kami untuk mencari sarapan. Biasanya kami ke Taman Kencana karena banyak pilihan. Chika dan Caca bisa main gelembung sabun, naik kuda atau sekedar berlarian di taman. Kami bisa sarapan menu Jawa Timur (rawon), Jawa Tengah (sego pecel), Jawa Barat (batagor, siomay, lontong sayur) atau kebarat-baratan (poffertjes). Juga bisa nostalgia melahap mie ayam FKH yang nyempil di pagar bekas kampus kami. Kalau mau menikmati panasnya bubur lemukut, kami tinggal menyeberang Jl Salak ke RM Makaroni Panggang. Kadang-kadang kami jalan pagi ke Lapangan Sempur. Setelah basa-basi berlari beberapa putaran biasanya kami nongkrong di tenda Mas Ando untuk melahap dimsum yang lekoh dan ceker eyem yang empuk abis. Kalau sedang pengin sarapan bubur, kami menyisir Jl Pajajaran untuk menikmati bubur ayam Tirsa lengkap dengan pangsit goreng, sate usus, jantung-hati, dan rempelo goreng. Kalau malas jalan jauh, kami merangkak ke Indraprasta II untuk dapat semangkuk bubur manado.

Mumpung musim panas dan cuaca cerah di Geelong, hari Minggu ini kami jalan pagi. Keluar dari rumah, kami berjalan sepanjang Boundary Rd ke arah AAHL, trus belok kiri di Ryrie St. Begitu masuk ke Eastern Park, Caca langsung lari dan baru berhenti di tengah lapangan bola tempat saya biasa bermain sepak bola dengan teman-teman di Lab. Kami sempat mampir ke East Geelong Golf Club sekedar untuk tahu fee dan melihat fasilitasnya, karena Mas Tono pengin main golf disini. Caca semangat banget mau jadi guide buat Pak Dhe-nya dari Solo yang hobby main golf. Caca pikir padang golf ini sama dengan mini golf tempat dia biasa main, ha… ha. Eniwei, Chika dan Caca sempat ‘lomba lari’ di sepanjang jogging trek di Eastern Park, sebelum Chika berhenti karena ankle-nya sakit. Pelan-pelan kami terus berjalan di sepanjang pantai kearah Eastern Beach. Begitu sampai di play ground, Chika langsung berlompatan dari monkey bar ke flying fox, dari plorotan ke ayunan. Baru aku tahu ternyata play ground merupakan obat mujarab untuk anak-anak, apapun sakitnya.

Setelah anak-anak puas bermain di play ground, kami pulang. Kali ini kami pilih rute berbeda - berjalan di sepanjang Garden St. Ketika menunggu lampu merah di perempatan Ryrie St., kami bertemu M. Stokes – pemain footy di klub favorit kami Geelong Cats. Chika heboh banget ketemu Stokes. Masih primary school aja heboh begitu, apalagi nanti kalo udah high school... Mati aku! Eniwei, alasan kami pilih rute Garden St adalah Brumby’s Bakery – toko roti di perempatan Garden St & Myers St. Caca pilih Toffee Scroll, Chika ambil Apple Scroll, Novy dan saya kebagian Classic Garlic bread. Tidak ada bubur ayam & lontong sayur, scroll & garlic bread-pun jadilah, uhuk...uhuk. Baik di Bogor maupun di Geelong, jalan pagi ternyata menjadi cara sehat untuk cari sarapan.

Saturday, February 14, 2009

Bushfire

Innaa lillahi wa innaa illaihi raaji’uun. Sesungguhnya kami adalah milik Alloh dan kami akan kembali kepada-Nya.

Marysville dilahap si jago merah. Seluruh kota menjadi arang, semuanya terlihat hitam. Black Saturday atau sabtu kelam. Itulah kira-kira yang digambarkan oleh berita di televisi dan surat kabar di seluruh Victoria dan Australia. Sabtu 7 February, suhu udara di wilayah Victoria luar biasa panasnya 45-47 derajat Celcius disertai angina kencang dari arah utara telah memicu terjadinya kebakaran terbesar dalam sejarah Australia. Kota- kota yang cantik menjadi hitam kelabu.

Sedih, sedih, dan sedih…. Tidak percaya melihat gambar Marysville yang benar-benar menghitam, hanya tinggal 12 rumah yang masih berdiri. Marysville sebuah kota kecil yang sangat cantik, terletak di sebelah timur laut Melbourne, tiga jam perjalanan dari Geelong. Seperti seorang gadis kecil yang sangat cantik, polos, tanpa polesan..., itulah kesan pertama ketika kami berkunjung kesana pada musim dingin dua tahun lalu. Kesan indah yang membuat saya ingin kembali ke kota ini. Kecantikannya yang sangat alami membuat setiap orang ingin sekali mengenalnya lebih dalam. Tetapi kini… Marysville seakan terhapus dari peta.

Air mata begitu deras mengalir di antara puing-puing rumah yang menghitam. 45 nyawa telah menjadi korban keganasan si jago merah di Marysville. Marysville hanyalah salah satu kota yang menjadi korban ganasnya si jago merah di Victoria tahun ini. Kota-kota indah lainnya, seperti Kinglake, Strathewen, Humevale, St. Andrews, Steels Creek, Flowerdale & Narbethong juga mengalami nasib serupa dengan Marysville. Tercatat tidak kurang dari 219 nyawa melayang, dan dikabarkan masih ada sekitar 30 orang dinyatakan hilang (termasuk 2 warga Indonesia yang sedang berlibur di kawasan tersebut). Belum lagi ribuan satwa dan hewan peliharaanpun menjadi korban amukan api yang sangat sulit dikendalikan ini.

Bantuan kemanusiaan pun mengalir dari dalam maupun luar negeri. Pemerintah Australia dan seluruh lapisan masyarakat dengan penuh empati berusaha sekuat tenaga meringankan beban fisik dan psikis para korban. Tidak ketinggalan juga Chika dan Caca, mereka ikut mendonasikan gold coin yang diambil dari money box nya sendiri. Hanya 1-2 dollar, tetapi mereka belajar untuk berbagi dan merasakan kesedihan teman-temannya yang kehilangan mainan, buku-buku, bangku belajar, bahkan gedung sekolahnya.


Photo kota Marysville sebelum bushfire, didownload dari www.triplem.com.au


Salah satu pojok Marysville sebelum bushfire, photo didownload dari www.redbubble.com


Marysville Primary School setelah bushfire, photo didownload dari www.abc.com.au

Saturday, January 31, 2009

45C

Puncak musim panas di Geelong. Minggu ini suhu sangat panas, puncaknya hari Kamis lalu ketika suhu mencapai 45oC. Diperkirakan hawa panas akan berlangsung selama 2 minggu. Weleh..weleh, penderitaan kami masih harus diperpanjang seminggu lagi. Hawa panas ini hasil kiriman dari 'The Red Centre' - gurun pasir di tengah benua Australia. Kalau sedang musim panas, 'The Red Centre' biasanya iseng mengirimkan angin kencang berhawa panas. Mirip kota Bogor yang iseng mengirimkan banjir ke Jakarta di bulan Januari-Februari. Waktu di Bogor dulu kami sering bercanda, kalau kami yang di Bogor kencing bareng, Jakarta yang kebanjiran, he..he. Sekarang kami yang kena batunya, dapat kiriman hawa panas dari gurun. 'Untung' hawa panas begini biasanya hanya berlangsung 2 minggu. 'Keuntungan' yang lain, hawa panas ini juga memanaskan air laut sehingga cukup hangat untuk berenang atau surfing. Walaupun disini banyak pantai yang bagus dan bersih, tetapi airnya terlalu dingin. Nah hari ini kami rame-rame ke pantai untuk menikmati air laut yang hangat. Pilihan kami kali ini jatuh ke Torquay - 20 menit dari rumah kami di Geelong. Selain terkenal sebagai produsen Quick Silver, Billabong dan Roxy, kota Torquay juga terkenal dengan pantainya yang indah. Yang agak berbeda dengan kebiasaan di tanah air, orang Aussie bawa tenda ke pantai sehingga bisa seharian bermain/berjemur. Chika & Caca semangat sekali nbantuin pasang tenda, trus buat istana pasir, berenang, dan body surfing. Tahun ini Caca sudah berani body surfing sendirian. Well done, Caca! Berenang lagi, main pasir lagi, body surfing lagi ... tak terasa hari sudah sore dan kulit sudah seperti udang rebus. Maksud hati pengin kulit 'tan' apadaya jadi gosong...

Sunday, January 11, 2009

A Splendid Sunday

Horee…. Mini golf! Horee…Body surfing! Caca sudah menagih untuk bermain mini golf. Sementara Chika sudah gak sabar mencoba boogie board-nya yang baru (tut) dari garage sale. Menurut prakiraan cuaca, hari ini suhu di Geelong cukup nyaman, maximum 24 derajat. Jadilah hari minggu ini kami meluncur dari Geelong ‘the centre of the world’ menuju Bellarine Adventure Golf yang terletak di Wallington, 18 km arah timur Geelong melalui Bellarine Highway. Setelah memilih bola golf warna warni, Chika dan Caca bergegas menuju ke padang golf. Kami pilih 18 holes mills course. Beruntung sekali kami datang cukup awal, karena ternyata banyak sekali pengunjung yang datang setelah kami, sehingga kadang-kadang harus menunggu untuk bermain di tiap hole. Chika dan Caca sangat menikmati permainan ini, karena mini golf ini ternyata didisain cukup menarik untuk anak-anak dan juga kami, karena di setiap hole ada kejutan yang terkadang membuat kami harus mencari dan menunggu dimana dan bagaimana bola kami akan beraksi. Ada yang berkelana melewati kincir air (mills) atau meluncur serta naik melewati mini tunnel sebelum masuk hole berikutnya. Caca sangat menikmai permainan ini walaupun kadang-kadang dia mulai kesal kalau bolanya gak masuk-masuk, mengingat motoriknya memang belum sematang Chika. Kami bertiga selalu memberi semangat kalau dia tidak bisa memasukkan bola. Di sini anak-anak juga mendapat pelajaran untuk saling mendukung dalam satu tim serta tetap sportif dalam permainan (gak boleh curang… ya!, kalau harus kena penalti ya diterima). Bagi Chika permainan ini sangat mengasyikkan dan penuh tantangan (dia ingin mencoba 36 holes mountain course yang lebih sulit, lain kali lagi ya sayang… dah laper nih kita!) Permainan golfpun berakhir di hole 18 eh…”ping!” bolanya kok hilang! Oh ternyata bolanya meluncur sendiri ke keranjang di resepsionis setelah melewati tunnel yang cukup panjang. Dan… hasil terakhir ibu dan Caca memecahkan rekor … terburuk ha..ha..ha… Sisi baiknya, buat pemecah rekor, baik rekor terbaik ataupun terburuk dapat trophy cokelat M&M. yummy!

Sudah waktunya makan siang nih… Perjalanan kamipun berlanjut mencari tempat piknik untuk menyantap bekal makan siang. Kamipun menemukan picnic area di Kensington Park di jalan menuju Ocean Grove. Kami sengaja mencari picnic area yang ada play ground-nya karena Chika & Caca masih sangat menikmati bermain ayunan, perosotan, monkey bar atau balancing. Setelah perut kami cukup kenyang dengan bekal menu makan siang kami yang sederhana: croissant dengan isi keju dan chicken slices kamipun menuju Ocean Grove, 7 km arah selatan Wallington.


Kami sering ke pantai di Ocean Grove, karena selain dekat dengan kota Geelong (berjarak ±25 km), pantai ini terkenal sebagai pantai keluarga. Pantainya landai dan gelombang laut yang tidak begitu tinggi, aman untuk anak-anak. Anak-anak bisa berlarian bebas dan berkejaran dengan gelombang laut, bermain pasir, dan tentu saja body surfing. Inilah salah satu favorit Chika, dan musim panas tentu saja sangat ditunggu-tunggu karena airnya cukup hangat. Tetapi tentu saja bagi kami ya masih tetap terasa dingin berr….berr… Setiap kali ada gelombang datang, Chika sudah bersiap dengan boogie board-nya dan wow… sambil berteriak lepas diapun disapu gelombang. Tertawa lepas… dan siap menantang gelombang kembali. Kami juga senang karena Caca juga mulai percaya diri untuk menantang gelombang , tapi… yang gak terlalu tinggi … Acara di pantai diakhiri dengan bermain di pasir membuat rock pool, pies, dan tentu saja istana pasir.

Jarum jam sudah menunjukkan angka 5 sore, tapi matahari masih tinggi. Karena dimusim panas, matahari terbenam jam 8.45, kamipun melanjutkan perjalanan ke Borough of Queenscliff. Borough (kota kecil) yang hanya berpenduduk sekitar 3.500 ini merupakan salah satu kota terkecil di Victoria. Berjarak 10 km dari Ocean Grove atau 35 km dari Geelong, kota tua di Bellarine Peninsula ini menjadi favorit saya. Queenscliff terletak di ujung timur Bellarine Peninsula, berhadapan dengan Point Nepean di Mornington Peninsula di sisi yang lain. Kedua peninsula (semenanjung) ini mengapit The Rip (selat sempit berarus deras) yang merupakan pintu masuk ke Melbourne melalui laut. Menurut sejarah, kota ini dibangun pada tahun 1863 sebagai benteng pertahanan militer, dimana kapal-kapal perang jaman perang dunia masuk dan keluar kota Melbourne. Tidak heran kalu di kota ini kita jumpai benteng dan mercusuar lengkap dengan sea pilot service. Sepanjang jalan di pusat kota ini kita dapat menikmati bangunan-bangunan tua yang sangat terpelihara karena masih digunakan sebagai tempat untuk layanan publik seperti perpustakaan yang juga menjadi pusat informasi bagi wisatawan, kantor pos yang masih berdiri apik, selaras dengan bangunan cafĂ© dan butik-butik kuno di sekitarnya. Selain penuh dengan cerita bersejarah, tidak lengkap rasanya kalau ke Queenscliff tidak mampir ke fish & chips. Warung sederhana di Hesse Street ini selalu ramai dikunjungi, sehingga kami harus rela mengantri untuk mendapatkan sebungkus fish & chips dengan saus tomat yang rasanya top markotop. Menurut sumber yang ada di warung ini, saus tomat, saus tartar dan saus yang lain memang produk rumahan (home made) yang dibuat khusus untuk warung ini. Kami paling suka dengan saus tomatnya yang mempunyai perpaduan rasa asam dan manis yang seimbang. Pendamping yang sangat pas bagi ikan whitting dan kentang goreng. Setelah berhasil mendapatkan sebungkus fish & chips kamipun mencari tempat nyaman untuk menyantapnya. Pilihan jatuh di Citizen Park. Di sini kami menyantap fish & chips sambil melihat hilir mudik kapal ferry yang berlayar dari Queenscliff menuju Sorento. Diiringi semilir angin laut, mataharipun perlahan mulai tenggelam di ufuk barat … A stunning sunset in a splendid Sunday evening.

Thursday, December 18, 2008

General Excellence Award

Matahari pagi bersinar cerah, menebarkan udara hangat khas musim panas di Geelong . Hari ini hari terakhir tahun ajaran 2008, hari yang ditunggu-tunggu para pelajar di Victoria. Saat ini Chika duduk di kelas 2 (Year 2) dan Caca di preparation class (persiapan masuk kelas 1). Chika dan Caca sudah tidak sabar menunggu apakah tahun ini akan mendapatkan General Excellence Award (GEA). GEA adalah penghargaan untuk murid terbaik di kelasnya. Kami bersyukur melihat anak-anak berani bermimpi menjadi yang terbaik. Disisi lain, kami tidak tega melihat mereka kecewa ketika gagal. Oleh karena itu, sejak kemarin kami sibuk mempersiapkan Chika dan Caca tentang etika menerima award: kalau berhasil kita bersyukur, kalau gagal kita terima dengan lapang dada, dan yang penting kita tetap bergembira dan memberikan selamat kepada orang lain yang lebih beruntung.

Pengumuman dan penyerahan award di Newcomb Park Primary School biasanya dilakukan di hari terakhir, pada saat general assembly. Penyerahan penghargaanpun dimulai: attendance award, citizen award, sport award, computer award, most improvement award, dan strive for knowledge award. Award tersebut diserahkan oleh Mrs Warren, wakil kepala sekolah. Chika tampak sumringah mengantungi attendance award dan sport award, tetapi wajah doi masih menunggu puncak acara, pengumuman GEA - juara umum! Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu tiba. Dipenghujung acara, Mr McPherson (kepala sekolah) maju ke mimbar mengumumkan GEA untuk setiap kelas. Dan … nama Chika dan Caca disebut. Saya jadi teringat lagu pengiring wisuda pengambilan sumpah dokter hewan di FKH IPB dulu:
... di sore hari yang sunyi
ibuku bertelut, sujud berdo'a
kudengar namaku disebut
dido’a ibuku, namaku disebut.

Monday, December 8, 2008

Idhul Adha, Nasi Kuning dan Christmas Parties

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Allahu Akbar walillah ilham …
Gema takbir, tahlil dan tahmid mengagungkan nama Illahi berkumandang di langit Geelong sejak tadi malam. Pagi ini cuaca cerah suhu 12 derajad Celcius, cukup nyaman untuk berangkat sholat Id ke masjid di Bostock Avenue, Manifold Heights. Berjarak 15 menit dari rumah kami, satu-satunya masjid di Geelong ini menjadi hub bagi kaum muslimin di Geelong dan sekitarnya. Di sini kami bisa silahturahmi dengan saudara-saudara muslim dari Indonesia, Malaysia dan Singapura yang tidak seberapa jumlahnya. Sebagian besar jemaah adalah migran dari Turki dan beberapa negara Timur Tengah lainnya. Yang unik, masjid ini merupakan bekas gereja. Bentuk gereja yang dibangun pada tahun 1839 masih dipertahankan seperti aslinya. Hanya interiornya yang berubah: ruang ganti (sakristi) diubah menjadi tempat untuk mengambil air wudlu. Fungsinya sama, untuk persiapan ibadah. Bangku gereja diganti karpet untuk bersujud memohon ampun kepada Illahi. Altar disulap menjadi mimbar, hanya letaknya agak berubah karena disesuaikan dengan arah kiblat. Masih di Bostock Avenue, sekitar 50 meter dari Masjid Geelong ada sebuah gereja yang masih berfungsi. Subhanallah … sebuah kerukunan hidup beragama yang sangat indah. Seindah Islam yang digambarkan Habiburrahman El Shirazy dalam Ayat-Ayat Cinta - novel pembangun jiwa yang menjadi best seller di tanah air. Kalau kita bisa memahami keindahan Islam seperti yang digambarkan Kang Habib atau yang dilakukan christian community di Bostock Avenue, mungkin Bom Bali, tragedi di Mumbai India, atau kerusuhan antar agama di Nigeria yang baru saja merengut ratusan jiwa tak berdosa, tidak perlu terjadi. Wallahu alam.

Anyway, selepas sholad Id, kami segera bertebaran di muka bumi. Chika dan Caca berangkat ke sekolah, saya ke Laboratorium, dan Novy ke Diversitat. Diversitat adalah community centre di Clarence Street, West Geelong dimana Novy belajar bahasa Inggris bersama migran dari Rusia, Ukraina, Kazakhstan, Italia, Jerman, Jepang, Cina, Iran, Srilangka dan Thailand. Karena hari ini merupakan hari terakhir, aktivitas pelajaran/diskusi diganti dengan Christmas party. Masing-masing orang membawa makanan khas negara asalnya. Novy membuat nasi kuning lengkap dengan ayam goreng, dadar telur, perkedel, mentimum, dan kering kentang …tanpa tempe. Karena tempe susah didapat dan harganya mahal ($20 per kilo), lebih mahal dari rump steak kualitas premium.

Christmas party di Diversitat merupakan awal dari rangkaian panjang festive season di Bulan Desember, termasuk di sekolah Chika & Caca, dan yang paling banyak di Lab tempat saya melakukan riset. Intensitas kerja di Lab juga agak berkurang, hampir seperti suasana bulan puasa di tanah air. Bedanya kalau ramadhan di tanah air sangat kental dengan kegiatan ibadah: puasa, sholat tarawih dan tadarus. Bulan Desember di Aussie identik dengan pesta. Judulnya masih Christmas parties, tetapi lebih kental suasana pestanya dan hampir tanpa sentuhan keagamaan. Paling tidak disetiap Christmas parties yang kami ikuti, tidak pernah ada ritual doa atau khotbah. Saya jadi ingat pepatah di kampung: desa mawa cara negara mawa tata.