Wednesday, January 13, 2016

Camping in the High Country


It has been a busy year for the four of us. Caca received double awards (Academic Excellence and Outstanding Application), Chika got her first job at Brumby's Bakery, Novy has settled as a high school tutor teacher and Agus has secured an indefinite position as a research scientist at CSIRO. We decided to spend the end-of-year-festive season in Geelong, only hitting the road after the New Year celebrations.

Camping at Ngarigo
We started the journey from Geelong to Wodonga via Princes Freeway and Hume Fwy, then continued driving along the Murray Valley Hwy which was pretty relaxing. The Alpine Way from Kanchoban to Ngarigo campsite was fantastic with dead white gum trees as far as the eye could see. We set up our tents at Ngarigo, which comes from the Aboriginal word meaning tabletop mountain, a beautiful campsite on the banks of Thredbo River. However, due to the pouring rain, we only camped at Ngarigo for two days before moving to a wood cabin upstream in Thredbo, a lovely ski alpine village located next to Thredbo River (1350 meters above sea level). We decided to postpone our climb up Mt Kosciuszko for a couple of days, by which then, the rain had cleared up. Even in the summer, there are many things to do at Thredbo, such as: walking, hiking, fishing, swimming and mountain bike riding.

@Mount Kosciuszko
Finally, after climbing through a cold and misty morning, there we were, standing tall on the rooftop of Australia, and in that moment there was no one higher than us in the country. We had conquered Mount Kosciuszko, Australia's highest mountain. The four of us took in the views that swept 360 degrees from the Victoria High Country to the Monaro plains and across the majestic Main Range, breathing in the fresh alpine air that carried the sweet scent of wildflowers which emblazoned the landscape in a kaleidoscope of colours. Mt Kosciuszko, Kozzie, is Australia's highest mountain standing tall at 2228 meters above sea level. It is one of the world's Seven Summits that see mountaineers venture to its summit as part of their quest to conquer the highest peaks on each of the seven continents. Kozzie was named by Polish geologist Sir Edmund Strzelecki in 1840, in honour of the Polish national hero General Tadeusz Kosciuszko. On the way down the mountain we stopped to have a cuppa at Eagle’s Nest Restaurant, enjoying the views as we sipped our warm coffees and shared a delicious plateful of apple and cinnamon strudel.

@Ferryman's Cafe, Lake Entrance
We took the coastal route on the way back to Geelong, stopping at Cann River to have a cuppa and buy some second-hand books, and at Lakes Entrance to have lunch. The highlight being the fish platter and satisfyingly large caramel milkshake of Ferryman’s Café. It is an amazing feeling that within 24 hours we had eaten in the highest restaurant in Australia and enjoyed lunch on a floating café in the Tasman Sea.

Siberia
Thredbo Diggings
View from Kozzie

Saturday, August 29, 2015

Berburu Salju di Akhir Musim Dingin

Lake Mountain, last week of winter 2015

Karena kesibukan saya di Lab termasuk perjalanan ke tanah air akhir Juli - awal Agustus dan jadwal kegiatan Novy, Chika & Caca di akhir pekan, baru di ujung musim kami sempat bermain salju. Delapan tahun lalu kami juga ke sini, ke Lake Mountain, sebuah alpine resort yang indah yang bisa ditempuh dalam waktu 3 jam dari rumah kami di Geelong.

Banyak perbedaan dari kedua perjalanan ini. Delapan tahun lalu Chika & Caca masih di SD dan TK sehingga persiapan perjalanan cukup ribet. Kami mesti menyiapkan banyak hal untuk anak-anak: baju hangat, bekal makanan-minuman, mainan dan obat-obatan (kawatir Caca mabuk karena perjalanan berliak-liuk melewati pinggiran great dividing range).

Kali ini persiapan perjalanan jauh dari ribet, anak-anak sudah cukup mandiri, tahu apa yang mesti dilakukan dan tahu apa yang mesti ... diminta. Kalau dulu anak-anak cukup senang bermain toboggan dan membuat snow man, sekarang bermain ski adalah pilihan utama. Menemani mereka bermain ski membawa keasyikan tersendiri bagi kami berdua. Keasyikannya adalah memar dan pegal-pegal yang tidak hilang dalam waktu beberapa hari. Sementara kami sudah sangat penat, Chika & Caca tampak masih segar bugar karena mengandalkan kelenturan tubuh hasil latihan balet yang sangat intensif. Kalau tidak karena perut lapar, mereka masih ingin terus bermain di puncak ...

 

Sunday, January 25, 2015

Belajar manjadi ibu untuk kedua gadisku


Ketika mereka hadir ...
mereka sungguh merasa dinantikan
mereka sungguh merasa dicintai
mereka sungguh merasa nyaman dalam dekapan.

Ketika mereka dalam dekapan ...
ada rasa bangga yang sering kusembunyikan
ada rasa khawatir yang kadang terasa berlebihan
ada rasa haru yang sering merasuk kalbu
ada rasa berkelimpahan yang tak terbataskan
ada rasa syukur yang tiada berkesudahan.

Ketika mereka bertumbuh ...
mereka perlu peraturan
mereka perlu panutan
mereka perlu kepiawaian
mereka perlu sanjungan
mereka perlu kepercayaan
mereka perlu tahu arti sebuah ketulusan
mereka perlu tahu bagaimana berhenti sejenak dalam keheningan.

Ketika mereka terus bertumbuh ...
mereka merasa punya peranan
mereka merasa nyaman dalam berbagai macam keadaan
mereka tahu apa yang mereka butuhkan
mereka berani mengambil keputusan
mereka tahu bagaimana menyayang orang
mereka juga sangat tahu peradaban
mereka tahu bagaimana meraih bintang
mereka tahu bagaimana bersujud dalam keheningan.

Ketika gadis kecilku bertumbuh ...
aku tetap terus belajar menjadi ibu
aku tetap terus belajar menjadi ibu yang mencinta
aku tetap terus belajar menjadi ibu yang tulus
aku tetap terus belajar menjadi ibu yang bisa jadi panutan
aku tetap terus belajar menjadi ibu yang hening dalam meraih bintang.

Novy Sunarto, Januari 2015
Puisi ini terinsipirasi setelah membaca buku Ian and Mary Grant: How to bring out the best in your daughter.

Sunday, January 26, 2014

Summer Camp 2013-14

Cruising at 110 km/hour along Hume Freeway from Melbourne to Yass was a good fun, but coastal driving from Sydney to Phillip Island through national parks was liberating.

This summer we drove up east to Canberra and Sydney via inland and took the coastal route to Phillip Islands on the way back to Geelong. Driving through bushes and beaches, dipping in small creeks and swimming in the blue ocean, tasting local fudge in Mogo, cheese in Bega and local fish n chips along the way. Setting up a tent and watching kangaroo grazing from our shelter in the day, barbecue and setting camp fire in the evening and dancing with stars at night. 

Day 1 Geelong to Wee Jasper
Day 3 Wee Jasper to Canberra
Day 5 Canberra to Sydney
Day 7 Sydney to Mimosa Rocks National Park
Day 9 Mimosa Rocks to South Gippsland
Day 10 South Gippsland to Geelong via Phillip Islands











Mogo, kampung seni yang tersembunyi di NSW
By Novy Sunarto

Setelah melewati Batemans Bay, kami memasuki sebuah kota kecil bernama Mogo. "Mas pelan-pelan nyetirnya, ada toko cantik tuh, kayaknya jualan kerajinan tangan deh". "Eh sebelah sana ada toko buku dan scrap book, toko seberangnya jual baju rajutan". "Daddy, there is a fudge and ice cream shop" teriak Caca. Wuih rame banget ya komentar-komentar yang muncul. Mobilpun diarahkan ke tempat bertanda parkir di ujung jalan. Terus terang saya lebih ke arah penasaran, tempat apa sih ini jauh dari mana mana kok ada deretan toko kuno yang cantik, berkesan artistik banget dan ramai pengunjung. Istilah bahasa Jawanya "regeng". Chika & Caca langsung menuju toko fudge and ice cream, mereka penasaran dengan rasa homemade fudge yang tersaji di etalase. Chika memilih mint-chocolate swirl, Caca menjatuhkan pilihan pada caramel-chocolate swirl. Yummmm!

Sementara saya sibuk memanjakan mata, Mas Agus berkesempatan ngobrol dengan pemilik salah satu toko sembari merasakan the husband seat. Kreatif banget ya yang membuat tulisan di bangku itu. Aha... bangku ini memang disediakan untuk para suami yang kecapean kalau sang istri sibuk belanja atau sekedar memanjakan mata di toko-toko ini. Menurut cerita Dirk, sang pemilik toko. Konon, kota kecil ini berkembang pada masa perburuan emas di era 1850-an. Penggalian emas di Cabbage Tree Creek pada tahun 1857 membuat Mogo dibanjiri para penambang emas yang mencari keberuntungan mendapatkan nugget (bongkahan emas) di sini. Karena banyaknya pendatang, sarana akomodasipun bermunculan. Pada puncaknya, Mogo memiliki beberapa pub & bar tempat para pekerja makan & minum, gereja, toko dan juga sekolah. Tetapi era keemasan ini tidak bertahan lama. Setelah emas habis, Mogo pun ditinggalkan  dan kembali tertidur ... sepi.

Melihat potensi yang pernah ada di Mogo, seorang seniman ingin kembali membangunkan Mogo yang lama tertidur. Beliau mendirikan sebuah galeri seni serta mengundang teman-teman kreatifnya untuk menyumbangkan ide segar menjadikan Mogo menjadi kampung seni. Maka sekitar tahun 1990-an Mogopun menjadi tujuan wisatawan dan para pencari barang-barang seni dan kerajinan, baik jadul maupun kontemporer. Mungkin seperti desa ubud di Bali yang menjadi pusat seni dan kerajinan. Hingga kini Mogo tetap ramai, menjadi persinggahan orang-orang penikmat seni. Hem ... saya ingin kembali ke sini suatu saat nanti.

Thursday, April 4, 2013

Sunrise Poem

The golden sun is rising
As I walk along the beach
The soft white clouds are floating
In a place that I can't reach

I walk along the promenade
Enjoying this wondrous sight
Seagulls soar as the darkness fade
And I cry out in delight

The sky is ablaze in golden fire
Rosy pink then to blue
Sea horses galloping at their heart's desire
And I walk back in the morning dew

By Chika & Caca Sunarto

Tuesday, August 31, 2010

Ketika saatnya kami harus pulang


Farewell at Gull Bus Station
Aku tidak tahu persis apa yang sedang berkecamuk di benak dua gadis kecilku. Tetapi hatiku sedikit tercekat ketika mendengar cerita Sharynn, guru kelas Chika. Beliau berkata Chika berkaca-kaca ketika dia menceritakan bahwa kami akan pulang ke Indonesia akhir Agustus tahun ini. Oo!

Selama ini Mas Agus dan aku selalu mempersiapkan Chika dan Caca, bahwa ke manapun kami pergi dan di manapun kami tinggal, itulah yang terbaik bagi kami, itulah rencana terindah dari Alloh bagi kami. Kami terkadang lupa kami berdua berbicara dengan dua gadis kecil yang belum genap 8 dan 10 tahun.  Mereka mengerti bahwa mereka harus selalu bersyukur dan menikmati setiap momen yang mereka lalui,  tetapi inilah pertama kali mereka merasakan arti sebuah perpisahan dengan teman-teman di sekolah, dengan suasana ramai  ruang ganti di kelas ballet ataupun kelas berenang, dengan musim yang selalu berganti setiap tiga bulan ...  Hari ini aku seperti diingatkan, bahwa kami mempunyai tugas yang lebih penting saat ini selain tugas berkemas .

Empat tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menjadikan Geelong kota kedua bagi Chika dan Caca.  Kami merasakan keramahan kota ini. Sapaan para lansia di pagi hari ketika kami berangakat ke sekolah. Ketukan hangat di pintu rumah di malam hari untuk sekotak coklat dari tetangga depan rumah. Suara pemotong rumput tetangga sebelah yang merapikan jalur hijau di depan rumah. Lambaian tangan ramah beserta tawaran sebuah sepeda untuk Caca. Kami sudah merasa memiliki kota ini ketika dengan mudahnya mencari setangkai mawar untuk kekasih tercinta di hari istimewa dan ketika ikut bernyanyi “We are Geelong the greatest team of all...”
But, there is a season for whatever is under the sky. Likewise, when we have to migrate from one city to another, from one country to another, we must be brave to leave the embrace of the establishment and comfort that is always temporary...

Tetapi, apapun di bawah langit pasti ada masanya. Demikian juga ketika kami harus berhijrah dari satu kota ke kota lain, dari satu negeri ke negeri lain, kami harus berani meninggalkan pelukan kemapanan dan kenyamanan yang selalu sementara... 

Sunday, December 6, 2009

The Magical Hammock

One sunny day a girl named Caca got a surprise in her backyard. She lived with her Mum, Dad and her big sister named, Chika. They all lived in a nice and peaceful street. The surprise that Caca got was that a new hammock was hanging between two trees. The hammock was full of different types of colours. Caca had a try on it. It was very comfy. She was about to call someone to help her swing the hammock, when suddenly the hammock swang all by itself! Caca was very surprised. She thought that the hammock was magical. It was like the hammock knew what she was thinking. For the whole day Caca stayed in the hammock most of the time. The next day Caca went on the hammock again after breakfast. You see, every time somebody lies down on the hammock something magical happens. Each day something different happens. But the hammock only did magical things to people that was nice. But Caca didn’t know that. This time, when Caca lay down on the hammock, she was somewhere else. She wasn’t outside in her backyard. She was on the MOON! Caca was a bit scared. Caca sat down on the hammock. ”I wish I could go home,” thought Caca. Then, with one soft sway they were home. Caca was relieved. When the next adventure with the hammock came, Caca wished it were nothing to do with the moon. Caca had a great time playing with hammock. When Caca was eating her dinner, she just knew that the hammock was magical. Tomorrow, Caca knew she would have a new lot of adventures with her special friend, The Magical Hammock!

(by: Kansha Sunarto)

Tuesday, July 7, 2009

Ketika Penguin dan Anjing bermain bersama

Siang, sepulang dari tutor bahasa Indonesia di Drysdale Secondary College, aku singgah ke Newcomb Library karena ada beberapa buku yang harus kukembalikan. Seperti biasa aku melihat-lihat deretan buku di bagian masak-memasak atau merajut. Setelah mendapat buku “Cookies, Muffins and Cakes” aku beralih ke deretan buku-buku psikologi. Ada sebuah buku yang menarik perhatianku: Every Child Has a Thinking Style by Lanna Nakone. A guide to Recognizing and Fostering each Child’s natural Gifts and Preferences - To help them learn, Thrive, and Achieve.
Judulnya cukup menarik, karena belakangan ini aku dan Mas Agus cukup dibuat bingung dengan tingkah polah dua malaikat kecilku karena kadang-kadang mereka bisa berubah menjadi little devils. Akupun membawa pulang buku ini dan berharap bisa membacanya sebagai buku pengantar tidur atau teman menikmati muffin. Sebagai seorang ibu dari dua gadis kecil yang memiliki karakter yang sangat berbeda, seringkali aku berpikir, pola asuh seperti apa yang tepat buat anak-anakku? Setelah membaca bab pertama, aku segera ingin menyelesaikannya karena buku ini ternyata memberikan banyak masukan dan cukup memberikan jawaban bagiku yang terkadang merasa berjalan dalam gelap dan sedikit frustrasi melihat tingkah dua gadis kecilku yang sangat melelahkan.
Lana Nakone melalui riset terakhirnya membagi karakter anak menjadi 4 macam yaitu penguin (maintainers style), anjing (harmonizers style), kuda (innovators style), dan singa (prioritizers style). Tulisannya yang terstruktur dan bahasanya yang mudah dipahami serta dibantu dengan cerita, ilustrasi, dan langkah demi langkah dalam pendekatan terhadap setiap karakter anak membantuku lebih memahami keunikan mereka. Akupun kini harus memiliki pendekatan yang berbeda sehingga mereka lebih nyaman dan gembira dalam menjalani hari-harinya. Aku tahu itu tidak semudah teori di dalam buku ini. Aku juga tahu buku ini hanya alat bantu, tapi aku juga tahu…..

Chika-ku mungkin seorang “Penguin”.

Hari Sabtu siang. Seperti biasa, kami menjemput Chika & Caca dari kursus balletnya. Karena cuaca cukup cerah, Mas Agus membelokkan mobil ke arah luar kota - Inverleigh. Kami sekedar ingin mencari tempat piknik untuk menikmati makan siang. Tetapi sungguh sangat menjengkelkan, ketika Chika (waktu itu berumur 7 tahun) dengan bossy memberikan pernyataan bahwa dia tidak ingin jalan-jalan, disusul dengan suara sesenggukan tangis yang ingin memperjelas nada protesnya. Saat itu yang ada di pikiran kami adalah Chika terlalu bossy dan kami ingin dia mau mengerti kepentingan orang lain. Selama perjalanan dan makan siang dia terus menunjukkan wajah masam dan mata sembab. Akhirnya kamipun pulang dengan perasaan yang sangat tidak nyaman. Seorang penguin sangat menikmati rutinitas, sesuatu yang teratur dan terprogram dengan jelas. Sehingga dia tidak terlalu menyukai kejutan. Aku baru menyadarinya setelah membaca buku ini. Chika sebenarnya tidak bossy tetapi dia ingin semuanya terencana. Perjalanan mencari tempat piknik, yang kami pikir akan menyenangkannya ternyata bagi dia adalah sesuatu yang di luar program. Pada hari itu, dia ingin menyelesaikan bacaannya sepulang dari kursus ballet, sehingga hari berikutnya dia bisa ke perpustakaan untuk meminjam buku yang baru. Aku baru ingat bahwa Chika selalu membuat daftar apa saja yang harus dibawa dan diperlukan kalau kami akan pergi ke suatu tempat. Dia akan menikmati tugasnya mengingatkanku apa saja yang masih belum terbawa di keranjang piknik atau di tas ransel kami. Betapa senangnya dia kalau diajak membuka peta oleh ayahnya kalau akan merencanakan suatu perjalanan disaat liburan. Dan dia dengan senang hati mencatat di buku kecilnya jam keberangkatan serta jarak tempuh setiap kami mengadakan perjalanan ke suatu tempat yang baru. Di sekolah, Chika juga selalu dijadikan role model bagi teman-temannya karena ketepatannya dalam mengerjakan semua tugas yang diberikan kepadanya. Dan sekarang di usianya yang belum genap 9 tahun, dia mempunyai jadwal untuk membantuku mencuci piring di hari yang telah terjadwal yaitu hari Minggu, Senin, dan Rabu. Sungguh bersyukur kami memiliki seorang penguin di rumah kami. Dan betapa bersyukurnya dunia memiliki maintainers seperti engkau, Chika. Karena kalau tidak betapa kacaunya dunia ini.

Caca, engkaukah Si “Harmonizer?”

Selalu cekakak-cekikik dengan teman-temannya di ruang ganti ballet. Atau asyik bermain hide and seek di ruang tunggu kalau kami agak terlambat menjemputnya - itulah Caca. Tidak terlalu perduli siapa the best friend karena bisa bermain dengan siapa saja. Terkesan santai, dan hampir tidak terlihat punya ambisi untuk mencapai sesuatu. Tapi bukan berarti dia tidak berprestasi lho!..., prestasi akademisnya sangat menonjol, sejak preparation class, Caca selalu mengikuti semua aktivitas class di atasnya. Tahun lalu, selain mendapat penghargaan General Excellence Award, Caca juga mendapat gold medallion di bidang olah raga. Kalau di dalam kelas, Caca sangat tahu apa yang harus dikerjakan dan yang tidak perlu dilakukan. Hal ini yang sangat mengejutkanku. Di usianya yang waktu itu belum juga genap 6 tahun, dia sudah bisa menganalisa lingkungan kelasnya dengan baik. Dia sangat mengerti keinginan gurunya atau teman-temannya. Kalau gurunya sedang ingin menjelaskan sesuatu tanpa ingin diinterupsi, Caca akan menunggu dengan sabar untuk memberikan komentar dengan mengangkat tangan terlebih dahulu. Dia tahu membantu temannya ketika mendapat tugas di friendship stop, tanpa ingin menonjolkan kelebihannya dalam mencatat nama atau alat permainan (padahal dia tahu persis, temannya yang bertugas bersamanya tidak terlalu bisa mengeja atau menulis). Mungkin inilah kelebihan Caca-ku, dia ingin semuanya berjalan dengan damai, tidak perlu bersitegang atau rebutan untuk mendapatkan tugas atau kedudukan. Setiap pulang sekolah, aku selalu melihat Caca asyik mengobrol atau kejar-kejaran di oval bersama teman-temannya. Tetapi kalau sudah di rumah Caca tahu bahwa dia boleh bebas melakukan kemauannya termasuk… sangat sulit dibangunkan dipagi hari, sulit disuruh mandi, dan makan luaaaama … sekali. Bagi orang lain waktu terus berjalan cepat, bagi Caca waktu seperti merangkak. Tapi lucunya ini hanya terjadi di rumah. Di sekolah semua tugas dikerjakannya dengan baik dan tepat waktu. Mungkin seperti anjing yang menjadi symbol harmonizer, dia hidup riang dan selalu bergembira bila dikelilingi teman-temannya. Dia tidak terlalu mementingkan diri sendiri, yang penting dia bisa hidup nyaman dan damai. Caca….Caca…. kamu sungguh tahu menyenangkan hati setiap orang. Tetapi kamu juga tahu bahwa rumah adalah tempat paling bebas di dunia karena semua orang menerimamu apa adanya - baik kelebihan atau kekuranganmu. Home sweet home itulah juga kalimat yang sering dilontarkan Caca kalau kami sampai di rumah sepulang dari jalan-jalan.

Saturday, April 11, 2009

The Adventure to Erskine Falls

On Saturday 11th of March, my family went to Erskine Falls in Lorne. It was so EXCITING! First we got prepared and got dressed. Then we drove to Bellarine Village to buy some fruits. While mum was shopping, dad told me what time it was, the distance and where we were. I wrote it down in my notebook.

We travelled 20 km to get to Torquay; there we saw the sea – the Southern Ocean. It looked so beautiful. Then we drove along the famous Great Ocean Road. It only took 15 minutes to get to Anglesea. Next up was Aireys Inlet. This time it only took 10 minutes! In Aireys Inlet I looked at the trees and saw that they were burnt at the bottom but the top was normal. I’ve never seen trees like that before so I thought it was because of the bushfires but I wasn’t sure.

After an 18 km long we saw Lorne. The waves were really good to do body surfing I thought. When we got to Lorne we parked the car and walked into the information centre. We got two maps, one so we could go to the waterfall and the other one showed us the whole town of Lorne. We followed the first map, which led us to Erskine Falls. The waterfall was 30m high but unfortunately there wasn’t much water because of the drought. When I smelt the forest I just couldn’t leave because it smelt like moist and damp trees. Caca my little sister jumped on the rocks and I followed her. The rocks along the creek were slippery and had fungi, algae and mushrooms. We followed a path that led us deeper into the forest. There I saw a log that ran across like a bridge. I balanced on it and it was very slippery. I only got to reach the middle because the rest of the log was rotting. Soon I found a little cave and it had drawings on it.

When I got back and saw the waterfall I leaped from rock to rock until I got tired of doing it. Then I got back to mum, but I saw that Caca and dad were walking very close to the waterfall. When they got back I remembered that we had to climb about 300 stairs! Caca ran up like a Cheetah and I thought that she’d be exhausted when she reached the car. Well she was but not like I was. Did you know that she won a gold medal in the junior Olympics for her age group last year?

Well I was relieved that we were going to have lunch because I was starving. We had Macaroni Cheese for lunch and enjoyed it while looking at the surfers at Louttit Bay. When we finished eating everyone walked to the fair and brought some Fairy Floss, it was yummy! Then we looked around. Caca and dad went back to the beach while mum and I bought 2 corn–on–the–cob. When mum and I got back, Caca was making a sandcastle and dad was reading a book. When I finished my corn–on–the–cob, I helped Caca make a new sandcastle and we found lots of interesting things. When I found a huge pile of seaweed I grabbed it and called for Caca to help me. We tugged at it and then suddenly we fell backwards and got ourselves dirty. Then I got some water from the sea and cleaned my clothes. After a little while mum and dad called us back. First we had to clean our feet so it wasn’t sandy, then we got changed.

Next we had to go home. When we were going back home we took another route – the inland route . This is the story of how we got home. First we departed from Lorne toward Deans Marsh. While dad were driving along the winding road of Otway National Park, Caca and I ate an Easter egg each. Then we found the leftover Fairy Floss and ate the rest. After that we sang some nursery rhymes and sang a silly song! For about 44 minutes we did that and then we reached Winchelsea. There we ate fish & chips. All of us thought that the chips were horrible! In the car, Caca and I did a silly game and we were laughing about it when arrived at home. Home Sweet Home! The whole adventure took us 7 hours and 51 minutes and it took 173 km to Lorne and back. (By Chika Sunarto)

Sunday, March 8, 2009

Gold rush

Tahun 1850-an di Australia dikenal sebagai gold rush - masa pencarian & penemuan emas besar-besaran. Kabar penemuan emas di Australia menyebabkan migrasi bangsa Eropa dan Asia terutama China ke Victoria. Banyak pemukiman dan kota baru lahir karena penambangan emas. Salah satunya kota Ballarat yang terletak 110km arah barat kota Melbourne. Ballarat dibangun dari emas hasil penambangan di Sovereign Hill - sebuah bukit emas disebelah selatan pusat kota. Bongkahan emas (nugget) terbesar kedua didunia ditemukan di Sovereign Hill pada musim dingin 1859. Emas seberat 67kg yang dikenal sebagai Welcome Nugget ini mempunyai kadar kemurnian 99,6% sehingga dihargai 10,050 pound sterling.

Hari ini Chika dan Caca napak tilas expedisi pencarian emas di Sovereign Hill bersama ratusan penambang emas amatir. Chika dan Caca semangat sekali mendulang emas di Red Hill Mine dimana Welcome Nugget ditemukan. Dengan harapan akan menemukan Welcome Nugget jilid 2, hi...hi. Chika menemukan "emas" dan menjualnya ke Waterloo Store - toko emas yang terletak dipinggir sungai. Seperti semua bangunan di Sovereign Hill, toko emas ini masih dipertahankan seperti aslinya, bahkan penjaga tokonya juga memakai baju ala 1850-an. Hasil 'penjualan emas" yang ditemukan Chika "dipakai" untuk beli es krim. Chika pilih rasa English Toffee kesukaannya, sementara Caca lebih suka menjilati permen Rasberry sampai mulutnya cemong gak karuan.

Walaupun saat ini sudah tidak ada emas lagi di Sovereign Hill, tetapi kota emas ini masih hidup, mungkin malah lebih ramai dari jaman gold rush tahun 1850-an. Bukan sebagai kota tambang emas tapi sebagai kota wisata. Tambang emas, gubuk tempat tinggal para pendulang, toko tempat jual beli emas, toko permen, es krim, pandai besi, kantor pos, bank, kereta kuda, bahkan pakaian "penduduknya" masih sama seperti tahun 1850-an. Tidak heran jika Sovereign Hill berhasil menyabet predikat Australian Tourism Awards.
Sambil menikmati es krim rasa abad ke-19, kami melihat proses peleburan emas di Gold Smelting Works. Emas dilebur di dalam tunggu panas suhu 1000 derajad Celcius dan dicetak menjadi batangan emas. Karena batangan emas ini berharga $140,000 hanya satu orang saja yang diperbolehkan memegangnya. Bagi yang ingin membeli perhiasan emas, disediakan di ruang sebelah dengan harga diskon. Ibu-ibu dan gadis-gadis langsung berbinar. Dari jauh kulihat Novy dan dua gadis kecilku juga tampak asyik di depan etalase. Ketika mereka menghampiriku dengan gusto, aku langsung ngeloyor pergi... perutku langsung mules, huek huekkkk.... Walaupun tidak berhasil menemukan Welcome Nugget jilid 2, Chika dan Caca tampak sangat gembira dengan beberapa batu quart dari hasil kerja kerasnya di pendulangan. Ketika mereka bertanya apakah kami menemukan emas, Novy bilang dia menemukan emas yang beratnya hampir sama dengan Welcome Nugget, namanya Mas Agus. Halah...!

Begonia Festival

Minggu pertama musim gugur. Suhu udara kembali normal 15-25oC. Hujan gerimis (orang Geelong menyebutnya spitting) juga mulai turun. Walaupun hanya beberapa puluh milimeter tetapi cukup untuk meredakan kebakaran yang menghanguskan Victoria dalam 3 minggu terakhir (lihat cerita tentang kebakaran di postingan Bushfire). Karena pemerintah mengumumkan bahwa kebakaran sudah reda, hari minggu ini kami jalan-jalan ke Ballarat - 90 km dari Geelong ke arah barat laut. Driving di Midland Highway A300 cukup menyenangkan, jalanan sepi sehingga kami dapat menikmati pemandangan dengan leluasa. Karena kekeringan, hanya kebun anggur yang tampak hijau. Hamparan padang rumput di peternakan sapi dan domba telah kering meranggas berwarna kuning kecoklatan. Tak heran sangat mudah terbakar. Apalagi pada saat musim panas ketika angin kencang dan suhu mencapai 45oC.

Setelah menempuh perjalanan selama 75 menit, kami tiba di kota Ballarat. Ballarat berasal dari bahasa Aborigin yang berarti tempat peristirahatan. Tujuan pertama kami adalah Begonia Festival di Botanical Garden. Ada 500 Begonia dari 150 varietas yang dipamerkan. Agak berbeda dengan Begonia koleksi Ibu di Malang yang tidak satupun berbunga, Begonia yang ada di pameran ini berbunga warna-warni ada merah, pink, orange, kuning, putih. Mungkin Begonia koleksi Ibu adalah varietas evergreen yang memang tidak berbunga. Gimana ya caranya ngirim Begonia dari Ballarat ke Malang? Ibu mertua pasti senang dapat tambahan koleksi Begonia. Kalo lihat photo Begonia yang warna-warni, Ibu mertua pasti langsung pengin ke Geelong. "Untung" Ibu mertua gaptek, gak pernah berkunjung ke blog ini. Jadi gak perlu repot-repot ngantar ke Ballarat, he...he.


Kami juga sempat naik tram “keliling” Lake Wendouree. Kebetulan hari ini tram gratis. Senang buanget dapat gratisan ... maklum keluarga mahasiswa. Menurut sejarah, pesisir Lake Wendouree merupakan tempat berkemah suku Wathaurong selama upacara adat. Tempat ini juga menjadi pusat perdagangan (barter hasil perburuan) suku Wathaurong yang tinggal di Ballarat dan sekitarnya. Kanguru, emu dan angsa hitam yang hanya ada di Australia sangat melimpah di Ballarat. Lake Wendouree dan sungai di sekitarnya juga kaya akan ikan salmon, whiting, mullet dan garfish. Kedamaian hidup suku Wathaurong ini sirna ketika kolonial Inggris datang dan merampas tanah adat mereka pada tahun 1835. Bukan hanya merampas hak orang Aborigin, orang Eropa juga menyebarkan penyakit flu dan cacar yang menyebabkan kematian masal suku Wathaurong. Lake Wendouree bukan hanya menjadi saksi bisu keserakahan kolonial Inggris tetapi juga menjadi bukti ganasnya perubahan iklim dan pemanasan global. Pada saat Olimpiade Melbourne tahun 1956, cabang dayung diselenggarakan di Lake Wendouree. Tetapi sekarang danau yang kaya akan sumber daya alam dan punya catatan sejarah panjang ini kering kerontang. Chika dan Caca bahkan sempat berlarian di tengah danau, bukan sulap bukan sihir! "Untung" danau ini ada di Austalia dimana fasilitas umum sangat dilindungi sehingga tidak dikapling-kapling menjadi perumahan mewah.



Cabang Dayung Olimpiade Melbourne 1956, photo didownload dari www.rowinghistory-aus.info

Sunday, February 22, 2009

Jalan-Jalan Pagi

Waktu di Bogor dulu, jalan pagi di hari Minggu menjadi kebiasaan keluarga kami untuk mencari sarapan. Biasanya kami ke Taman Kencana karena banyak pilihan. Chika dan Caca bisa main gelembung sabun, naik kuda atau sekedar berlarian di taman. Kami bisa sarapan menu Jawa Timur (rawon), Jawa Tengah (sego pecel), Jawa Barat (batagor, siomay, lontong sayur) atau kebarat-baratan (poffertjes). Juga bisa nostalgia melahap mie ayam FKH yang nyempil di pagar bekas kampus kami. Kalau mau menikmati panasnya bubur lemukut, kami tinggal menyeberang Jl Salak ke RM Makaroni Panggang. Kadang-kadang kami jalan pagi ke Lapangan Sempur. Setelah basa-basi berlari beberapa putaran biasanya kami nongkrong di tenda Mas Ando untuk melahap dimsum yang lekoh dan ceker eyem yang empuk abis. Kalau sedang pengin sarapan bubur, kami menyisir Jl Pajajaran untuk menikmati bubur ayam Tirsa lengkap dengan pangsit goreng, sate usus, jantung-hati, dan rempelo goreng. Kalau malas jalan jauh, kami merangkak ke Indraprasta II untuk dapat semangkuk bubur manado.

Mumpung musim panas dan cuaca cerah di Geelong, hari Minggu ini kami jalan pagi. Keluar dari rumah, kami berjalan sepanjang Boundary Rd ke arah AAHL, trus belok kiri di Ryrie St. Begitu masuk ke Eastern Park, Caca langsung lari dan baru berhenti di tengah lapangan bola tempat saya biasa bermain sepak bola dengan teman-teman di Lab. Kami sempat mampir ke East Geelong Golf Club sekedar untuk tahu fee dan melihat fasilitasnya, karena Mas Tono pengin main golf disini. Caca semangat banget mau jadi guide buat Pak Dhe-nya dari Solo yang hobby main golf. Caca pikir padang golf ini sama dengan mini golf tempat dia biasa main, ha… ha. Eniwei, Chika dan Caca sempat ‘lomba lari’ di sepanjang jogging trek di Eastern Park, sebelum Chika berhenti karena ankle-nya sakit. Pelan-pelan kami terus berjalan di sepanjang pantai kearah Eastern Beach. Begitu sampai di play ground, Chika langsung berlompatan dari monkey bar ke flying fox, dari plorotan ke ayunan. Baru aku tahu ternyata play ground merupakan obat mujarab untuk anak-anak, apapun sakitnya.

Setelah anak-anak puas bermain di play ground, kami pulang. Kali ini kami pilih rute berbeda - berjalan di sepanjang Garden St. Ketika menunggu lampu merah di perempatan Ryrie St., kami bertemu M. Stokes – pemain footy di klub favorit kami Geelong Cats. Chika heboh banget ketemu Stokes. Masih primary school aja heboh begitu, apalagi nanti kalo udah high school... Mati aku! Eniwei, alasan kami pilih rute Garden St adalah Brumby’s Bakery – toko roti di perempatan Garden St & Myers St. Caca pilih Toffee Scroll, Chika ambil Apple Scroll, Novy dan saya kebagian Classic Garlic bread. Tidak ada bubur ayam & lontong sayur, scroll & garlic bread-pun jadilah, uhuk...uhuk. Baik di Bogor maupun di Geelong, jalan pagi ternyata menjadi cara sehat untuk cari sarapan.

Saturday, February 14, 2009

Bushfire

Innaa lillahi wa innaa illaihi raaji’uun. Sesungguhnya kami adalah milik Alloh dan kami akan kembali kepada-Nya.

Marysville dilahap si jago merah. Seluruh kota menjadi arang, semuanya terlihat hitam. Black Saturday atau sabtu kelam. Itulah kira-kira yang digambarkan oleh berita di televisi dan surat kabar di seluruh Victoria dan Australia. Sabtu 7 February, suhu udara di wilayah Victoria luar biasa panasnya 45-47 derajat Celcius disertai angina kencang dari arah utara telah memicu terjadinya kebakaran terbesar dalam sejarah Australia. Kota- kota yang cantik menjadi hitam kelabu.

Sedih, sedih, dan sedih…. Tidak percaya melihat gambar Marysville yang benar-benar menghitam, hanya tinggal 12 rumah yang masih berdiri. Marysville sebuah kota kecil yang sangat cantik, terletak di sebelah timur laut Melbourne, tiga jam perjalanan dari Geelong. Seperti seorang gadis kecil yang sangat cantik, polos, tanpa polesan..., itulah kesan pertama ketika kami berkunjung kesana pada musim dingin dua tahun lalu. Kesan indah yang membuat saya ingin kembali ke kota ini. Kecantikannya yang sangat alami membuat setiap orang ingin sekali mengenalnya lebih dalam. Tetapi kini… Marysville seakan terhapus dari peta.

Air mata begitu deras mengalir di antara puing-puing rumah yang menghitam. 45 nyawa telah menjadi korban keganasan si jago merah di Marysville. Marysville hanyalah salah satu kota yang menjadi korban ganasnya si jago merah di Victoria tahun ini. Kota-kota indah lainnya, seperti Kinglake, Strathewen, Humevale, St. Andrews, Steels Creek, Flowerdale & Narbethong juga mengalami nasib serupa dengan Marysville. Tercatat tidak kurang dari 219 nyawa melayang, dan dikabarkan masih ada sekitar 30 orang dinyatakan hilang (termasuk 2 warga Indonesia yang sedang berlibur di kawasan tersebut). Belum lagi ribuan satwa dan hewan peliharaanpun menjadi korban amukan api yang sangat sulit dikendalikan ini.

Bantuan kemanusiaan pun mengalir dari dalam maupun luar negeri. Pemerintah Australia dan seluruh lapisan masyarakat dengan penuh empati berusaha sekuat tenaga meringankan beban fisik dan psikis para korban. Tidak ketinggalan juga Chika dan Caca, mereka ikut mendonasikan gold coin yang diambil dari money box nya sendiri. Hanya 1-2 dollar, tetapi mereka belajar untuk berbagi dan merasakan kesedihan teman-temannya yang kehilangan mainan, buku-buku, bangku belajar, bahkan gedung sekolahnya.


Photo kota Marysville sebelum bushfire, didownload dari www.triplem.com.au


Salah satu pojok Marysville sebelum bushfire, photo didownload dari www.redbubble.com


Marysville Primary School setelah bushfire, photo didownload dari www.abc.com.au

Saturday, January 31, 2009

45C

Puncak musim panas di Geelong. Minggu ini suhu sangat panas, puncaknya hari Kamis lalu ketika suhu mencapai 45oC. Diperkirakan hawa panas akan berlangsung selama 2 minggu. Weleh..weleh, penderitaan kami masih harus diperpanjang seminggu lagi. Hawa panas ini hasil kiriman dari 'The Red Centre' - gurun pasir di tengah benua Australia. Kalau sedang musim panas, 'The Red Centre' biasanya iseng mengirimkan angin kencang berhawa panas. Mirip kota Bogor yang iseng mengirimkan banjir ke Jakarta di bulan Januari-Februari. Waktu di Bogor dulu kami sering bercanda, kalau kami yang di Bogor kencing bareng, Jakarta yang kebanjiran, he..he. Sekarang kami yang kena batunya, dapat kiriman hawa panas dari gurun. 'Untung' hawa panas begini biasanya hanya berlangsung 2 minggu. 'Keuntungan' yang lain, hawa panas ini juga memanaskan air laut sehingga cukup hangat untuk berenang atau surfing. Walaupun disini banyak pantai yang bagus dan bersih, tetapi airnya terlalu dingin. Nah hari ini kami rame-rame ke pantai untuk menikmati air laut yang hangat. Pilihan kami kali ini jatuh ke Torquay - 20 menit dari rumah kami di Geelong. Selain terkenal sebagai produsen Quick Silver, Billabong dan Roxy, kota Torquay juga terkenal dengan pantainya yang indah. Yang agak berbeda dengan kebiasaan di tanah air, orang Aussie bawa tenda ke pantai sehingga bisa seharian bermain/berjemur. Chika & Caca semangat sekali nbantuin pasang tenda, trus buat istana pasir, berenang, dan body surfing. Tahun ini Caca sudah berani body surfing sendirian. Well done, Caca! Berenang lagi, main pasir lagi, body surfing lagi ... tak terasa hari sudah sore dan kulit sudah seperti udang rebus. Maksud hati pengin kulit 'tan' apadaya jadi gosong...

Sunday, January 11, 2009

A Splendid Sunday

Horee…. Mini golf! Horee…Body surfing! Caca sudah menagih untuk bermain mini golf. Sementara Chika sudah gak sabar mencoba boogie board-nya yang baru (tut) dari garage sale. Menurut prakiraan cuaca, hari ini suhu di Geelong cukup nyaman, maximum 24 derajat. Jadilah hari minggu ini kami meluncur dari Geelong ‘the centre of the world’ menuju Bellarine Adventure Golf yang terletak di Wallington, 18 km arah timur Geelong melalui Bellarine Highway. Setelah memilih bola golf warna warni, Chika dan Caca bergegas menuju ke padang golf. Kami pilih 18 holes mills course. Beruntung sekali kami datang cukup awal, karena ternyata banyak sekali pengunjung yang datang setelah kami, sehingga kadang-kadang harus menunggu untuk bermain di tiap hole. Chika dan Caca sangat menikmati permainan ini, karena mini golf ini ternyata didisain cukup menarik untuk anak-anak dan juga kami, karena di setiap hole ada kejutan yang terkadang membuat kami harus mencari dan menunggu dimana dan bagaimana bola kami akan beraksi. Ada yang berkelana melewati kincir air (mills) atau meluncur serta naik melewati mini tunnel sebelum masuk hole berikutnya. Caca sangat menikmai permainan ini walaupun kadang-kadang dia mulai kesal kalau bolanya gak masuk-masuk, mengingat motoriknya memang belum sematang Chika. Kami bertiga selalu memberi semangat kalau dia tidak bisa memasukkan bola. Di sini anak-anak juga mendapat pelajaran untuk saling mendukung dalam satu tim serta tetap sportif dalam permainan (gak boleh curang… ya!, kalau harus kena penalti ya diterima). Bagi Chika permainan ini sangat mengasyikkan dan penuh tantangan (dia ingin mencoba 36 holes mountain course yang lebih sulit, lain kali lagi ya sayang… dah laper nih kita!) Permainan golfpun berakhir di hole 18 eh…”ping!” bolanya kok hilang! Oh ternyata bolanya meluncur sendiri ke keranjang di resepsionis setelah melewati tunnel yang cukup panjang. Dan… hasil terakhir ibu dan Caca memecahkan rekor … terburuk ha..ha..ha… Sisi baiknya, buat pemecah rekor, baik rekor terbaik ataupun terburuk dapat trophy cokelat M&M. yummy!

Sudah waktunya makan siang nih… Perjalanan kamipun berlanjut mencari tempat piknik untuk menyantap bekal makan siang. Kamipun menemukan picnic area di Kensington Park di jalan menuju Ocean Grove. Kami sengaja mencari picnic area yang ada play ground-nya karena Chika & Caca masih sangat menikmati bermain ayunan, perosotan, monkey bar atau balancing. Setelah perut kami cukup kenyang dengan bekal menu makan siang kami yang sederhana: croissant dengan isi keju dan chicken slices kamipun menuju Ocean Grove, 7 km arah selatan Wallington.


Kami sering ke pantai di Ocean Grove, karena selain dekat dengan kota Geelong (berjarak ±25 km), pantai ini terkenal sebagai pantai keluarga. Pantainya landai dan gelombang laut yang tidak begitu tinggi, aman untuk anak-anak. Anak-anak bisa berlarian bebas dan berkejaran dengan gelombang laut, bermain pasir, dan tentu saja body surfing. Inilah salah satu favorit Chika, dan musim panas tentu saja sangat ditunggu-tunggu karena airnya cukup hangat. Tetapi tentu saja bagi kami ya masih tetap terasa dingin berr….berr… Setiap kali ada gelombang datang, Chika sudah bersiap dengan boogie board-nya dan wow… sambil berteriak lepas diapun disapu gelombang. Tertawa lepas… dan siap menantang gelombang kembali. Kami juga senang karena Caca juga mulai percaya diri untuk menantang gelombang , tapi… yang gak terlalu tinggi … Acara di pantai diakhiri dengan bermain di pasir membuat rock pool, pies, dan tentu saja istana pasir.

Jarum jam sudah menunjukkan angka 5 sore, tapi matahari masih tinggi. Karena dimusim panas, matahari terbenam jam 8.45, kamipun melanjutkan perjalanan ke Borough of Queenscliff. Borough (kota kecil) yang hanya berpenduduk sekitar 3.500 ini merupakan salah satu kota terkecil di Victoria. Berjarak 10 km dari Ocean Grove atau 35 km dari Geelong, kota tua di Bellarine Peninsula ini menjadi favorit saya. Queenscliff terletak di ujung timur Bellarine Peninsula, berhadapan dengan Point Nepean di Mornington Peninsula di sisi yang lain. Kedua peninsula (semenanjung) ini mengapit The Rip (selat sempit berarus deras) yang merupakan pintu masuk ke Melbourne melalui laut. Menurut sejarah, kota ini dibangun pada tahun 1863 sebagai benteng pertahanan militer, dimana kapal-kapal perang jaman perang dunia masuk dan keluar kota Melbourne. Tidak heran kalu di kota ini kita jumpai benteng dan mercusuar lengkap dengan sea pilot service. Sepanjang jalan di pusat kota ini kita dapat menikmati bangunan-bangunan tua yang sangat terpelihara karena masih digunakan sebagai tempat untuk layanan publik seperti perpustakaan yang juga menjadi pusat informasi bagi wisatawan, kantor pos yang masih berdiri apik, selaras dengan bangunan café dan butik-butik kuno di sekitarnya. Selain penuh dengan cerita bersejarah, tidak lengkap rasanya kalau ke Queenscliff tidak mampir ke fish & chips. Warung sederhana di Hesse Street ini selalu ramai dikunjungi, sehingga kami harus rela mengantri untuk mendapatkan sebungkus fish & chips dengan saus tomat yang rasanya top markotop. Menurut sumber yang ada di warung ini, saus tomat, saus tartar dan saus yang lain memang produk rumahan (home made) yang dibuat khusus untuk warung ini. Kami paling suka dengan saus tomatnya yang mempunyai perpaduan rasa asam dan manis yang seimbang. Pendamping yang sangat pas bagi ikan whitting dan kentang goreng. Setelah berhasil mendapatkan sebungkus fish & chips kamipun mencari tempat nyaman untuk menyantapnya. Pilihan jatuh di Citizen Park. Di sini kami menyantap fish & chips sambil melihat hilir mudik kapal ferry yang berlayar dari Queenscliff menuju Sorento. Diiringi semilir angin laut, mataharipun perlahan mulai tenggelam di ufuk barat … A stunning sunset in a splendid Sunday evening.

Thursday, December 18, 2008

General Excellence Award

Matahari pagi bersinar cerah, menebarkan udara hangat khas musim panas di Geelong . Hari ini hari terakhir tahun ajaran 2008, hari yang ditunggu-tunggu para pelajar di Victoria. Saat ini Chika duduk di kelas 2 (Year 2) dan Caca di preparation class (persiapan masuk kelas 1). Chika dan Caca sudah tidak sabar menunggu apakah tahun ini akan mendapatkan General Excellence Award (GEA). GEA adalah penghargaan untuk murid terbaik di kelasnya. Kami bersyukur melihat anak-anak berani bermimpi menjadi yang terbaik. Disisi lain, kami tidak tega melihat mereka kecewa ketika gagal. Oleh karena itu, sejak kemarin kami sibuk mempersiapkan Chika dan Caca tentang etika menerima award: kalau berhasil kita bersyukur, kalau gagal kita terima dengan lapang dada, dan yang penting kita tetap bergembira dan memberikan selamat kepada orang lain yang lebih beruntung.

Pengumuman dan penyerahan award di Newcomb Park Primary School biasanya dilakukan di hari terakhir, pada saat general assembly. Penyerahan penghargaanpun dimulai: attendance award, citizen award, sport award, computer award, most improvement award, dan strive for knowledge award. Award tersebut diserahkan oleh Mrs Warren, wakil kepala sekolah. Chika tampak sumringah mengantungi attendance award dan sport award, tetapi wajah doi masih menunggu puncak acara, pengumuman GEA - juara umum! Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu tiba. Dipenghujung acara, Mr McPherson (kepala sekolah) maju ke mimbar mengumumkan GEA untuk setiap kelas. Dan … nama Chika dan Caca disebut. Saya jadi teringat lagu pengiring wisuda pengambilan sumpah dokter hewan di FKH IPB dulu:
... di sore hari yang sunyi
ibuku bertelut, sujud berdo'a
kudengar namaku disebut
dido’a ibuku, namaku disebut.

Monday, December 8, 2008

Idhul Adha, Nasi Kuning dan Christmas Parties

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Allahu Akbar walillah ilham …
Gema takbir, tahlil dan tahmid mengagungkan nama Illahi berkumandang di langit Geelong sejak tadi malam. Pagi ini cuaca cerah suhu 12 derajad Celcius, cukup nyaman untuk berangkat sholat Id ke masjid di Bostock Avenue, Manifold Heights. Berjarak 15 menit dari rumah kami, satu-satunya masjid di Geelong ini menjadi hub bagi kaum muslimin di Geelong dan sekitarnya. Di sini kami bisa silahturahmi dengan saudara-saudara muslim dari Indonesia, Malaysia dan Singapura yang tidak seberapa jumlahnya. Sebagian besar jemaah adalah migran dari Turki dan beberapa negara Timur Tengah lainnya. Yang unik, masjid ini merupakan bekas gereja. Bentuk gereja yang dibangun pada tahun 1839 masih dipertahankan seperti aslinya. Hanya interiornya yang berubah: ruang ganti (sakristi) diubah menjadi tempat untuk mengambil air wudlu. Fungsinya sama, untuk persiapan ibadah. Bangku gereja diganti karpet untuk bersujud memohon ampun kepada Illahi. Altar disulap menjadi mimbar, hanya letaknya agak berubah karena disesuaikan dengan arah kiblat. Masih di Bostock Avenue, sekitar 50 meter dari Masjid Geelong ada sebuah gereja yang masih berfungsi. Subhanallah … sebuah kerukunan hidup beragama yang sangat indah. Seindah Islam yang digambarkan Habiburrahman El Shirazy dalam Ayat-Ayat Cinta - novel pembangun jiwa yang menjadi best seller di tanah air. Kalau kita bisa memahami keindahan Islam seperti yang digambarkan Kang Habib atau yang dilakukan christian community di Bostock Avenue, mungkin Bom Bali, tragedi di Mumbai India, atau kerusuhan antar agama di Nigeria yang baru saja merengut ratusan jiwa tak berdosa, tidak perlu terjadi. Wallahu alam.

Anyway, selepas sholad Id, kami segera bertebaran di muka bumi. Chika dan Caca berangkat ke sekolah, saya ke Laboratorium, dan Novy ke Diversitat. Diversitat adalah community centre di Clarence Street, West Geelong dimana Novy belajar bahasa Inggris bersama migran dari Rusia, Ukraina, Kazakhstan, Italia, Jerman, Jepang, Cina, Iran, Srilangka dan Thailand. Karena hari ini merupakan hari terakhir, aktivitas pelajaran/diskusi diganti dengan Christmas party. Masing-masing orang membawa makanan khas negara asalnya. Novy membuat nasi kuning lengkap dengan ayam goreng, dadar telur, perkedel, mentimum, dan kering kentang …tanpa tempe. Karena tempe susah didapat dan harganya mahal ($20 per kilo), lebih mahal dari rump steak kualitas premium.

Christmas party di Diversitat merupakan awal dari rangkaian panjang festive season di Bulan Desember, termasuk di sekolah Chika & Caca, dan yang paling banyak di Lab tempat saya melakukan riset. Intensitas kerja di Lab juga agak berkurang, hampir seperti suasana bulan puasa di tanah air. Bedanya kalau ramadhan di tanah air sangat kental dengan kegiatan ibadah: puasa, sholat tarawih dan tadarus. Bulan Desember di Aussie identik dengan pesta. Judulnya masih Christmas parties, tetapi lebih kental suasana pestanya dan hampir tanpa sentuhan keagamaan. Paling tidak disetiap Christmas parties yang kami ikuti, tidak pernah ada ritual doa atau khotbah. Saya jadi ingat pepatah di kampung: desa mawa cara negara mawa tata.

Saturday, November 29, 2008

Four Seasons Poem

Winter
Snowflakes fall from the frosty sky.
Children toboggan down a snowy hill, and
ice skate on a glistening, frozen lake.
Warm heaters are turned on after a cold play outside.

Spring
Baby birds are hatching from their eggs.
Butterflies roam gardens.
Flowers bloom to decorate gardens.
Days get warmer every sunny day.

Summer
Rosy, ripe apples are picked in orchards.
Splash, swim and have fun in a nice cool pool.
Surf the big waves at Bells Beach.
Choc-chip ice creams are sold in hot, sunny days.

Autumn
Bears prepare to hibernate.
Red, brown, gold and yellow are colours of gardens.
Jump in the colorful, crunchy leaves.
Colorful trees make a good background on photos.

(By Chika Sunarto)

Thursday, November 27, 2008

HIPPY Graduate

Hari ini Caca lulus program Hippy. Hippy Australia merupakan salah satu program pemerintah federal untuk mempersiapkan anak-anak prasekolah agar mereka lebih mudah beradaptasi ketika masuk sekolah. Program ini berlangsung selama dua tahun, dimulai sejak anak masuk TK umur 4 tahun sampai mereka selesai preparation class di SD, umur 6 tahun. Yang menarik dari program ini adalah orang tuanya sendiri yang menjadi guru bagi anak-anaknya. Setiap minggu selama satu jam, seorang mentor dari Hippy datang ke rumah untuk melatih orang tua tentang program literacy, numeracy, logical thinking, problem solving, spatial concepts, story comprehension, visual & auditory discrimination. Bahan-bahan pelajaran tersebut nantinya akan dipakai orang tua untuk bermain Hippy bersama anak selama satu minggu. Biasanya permainan Hippy dilakukan secara rutin setiap hari selama 15-20 menit. Karena disubsidi pemerintah, peserta Hippy hanya membayar $1 per minggu sekedar untuk mengganti biaya alat peraga.

Keuntungan ikut program Hippy antara lain orang tua punya waktu khusus untuk bermain sambil belajar bersama anak (one on one) sehingga memperkuat ikatan emotional antara keduanya. Orang tua juga lebih tahu perkembangan kognitif anak, dan mengenal kelebihan dan kelemahan anak. Bagi Caca, program ini juga sangat membantu ketika doi masuk sekolah, antara lain ia sangat mudah beradaptasi di sekolah dan sudah terbiasa dengan konsep bermain sambil belajar. Walaupun bukan menjadi tujuan utama program Hippy, tetapi Hippy graduate biasanya lebih aktif dan menonjol di kelas.

Friday, November 14, 2008

10th Wedding Anniversary

WOW! I had the most wonderful weekend. On Friday after school, I got ready for my swimming lessons. When we arrived at Splashdown, we had a little play because it wasn’t time for my lessons yet. When we had my lessons, we learned lots of new things. My new teacher is called Tracey. When my lessons finished we got dressed, after that, we went home. When we arrived at home dad was taking a shower. Then we got ready for the sleepover. When we arrived at my dad’s friend’s house, we said “Hello” to Ken and Rosalie. We got the Marble Machine and built a tower, after that we put marbles at the top of the tower and it went down. After dad and mum went home, we had pizza. Mum and dad were going to the cinema; the movie was called The Forbidden Kingdom. It was mum and dad 10th wedding anniversary, so they wanted the night together. Meanwhile at Ken and Rosalie’s house I had pizza. It was a Seafood Pizza. It was DELICIOUS! After we had pizza, we watched the news. We had chocolate wedge for dessert. Then we watched the movie of the 12 Dancing Princesses. But it took a while to set it up. We went to bed at 10 o’clock. When we went to bed, I straight away closed my eyes because I was so TIRED! (By Chika Sunarto)

Tulisan di atas adalah catatan kecil yang ditulis Chika di Journal Writing sekolah. Cerita yang lugas, polos dan sederhana sekali, tetapi sangat menyentuh bagi kami, mengingat usia Chika yang belum genap 8 tahun. Di hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-10 (Juli 2008), Chika dan Caca menginap sendirian di rumah salah satu pembimbing saya. Kami sudah sangat senang melihat mereka bisa menikmati bermalam di keluarga Aussie, sehingga kami bisa night out berdua saja. Betapa gembiranya kami ketika kemarin kami temukan tulisan Chika tsb diatas di Journal Writing-nya.

Saya juga mendapat kado puisi istimewa dari mantan pacar (sekarang istri saya):

10 TAHUN PERKAWINAN
Aku… hanya sekedip sinar
Yang datang di kehidupanmu ,
Seperti bintang kecil di langit malam.

Engkau… seperti sayap yang mengepak,
serta merangkum membawa semua hatiku.

Kita… adalah kata yang tercipta
ketika cinta datang memenuhi panggilannya.

Cinta…

itu yang selalu ingin kurasa
‘tuk merangkum semua harapanku
Rinduku
Percayaku
Kepasrahan serta maafku.

Kucoba memandang 10 tahun jejak kaki kita tanpa sesal
Kucoba menerimanya tanpa pernah aku mengerti
Kucoba menerimanya tanpa pernah ingin kuingkari.

Kucoba
Kaucoba
Kita coba
Karena yakin selalu ada CINTA.